Neraca bank sentral utama dunia—Fed, ECB, BoJ, BOE—sudah jauh menyusut dari puncak pandemi. Apa artinya bagi pasar modal global?
Quantitative tightening sudah berjalan cukup jauh. Neraca empat bank sentral terbesar dunia—Federal Reserve, ECB, Bank of Japan, dan Bank of England—semuanya berada di level terendah sejak era pandemi, dan dalam beberapa kasus, terendah dalam hampir satu dekade.
Fed saat ini duduk di rasio aset terhadap PDB AS sekitar 21%, turun drastis dari puncaknya ~37% di 2021. BOE bahkan lebih agresif: dari ~40% di 2021 kembali ke ~21%, level yang terakhir terlihat di 2016. ECB juga sudah di bawah 40% terhadap PDB Zona Euro untuk pertama kalinya sejak Q1 2020, setelah sempat menyentuh ~65% di 2022.
Satu-satunya outlier tetap Bank of Japan. Dengan rasio ~103% terhadap PDB Jepang, BoJ masih jauh di atas semua bank sentral lain meskipun ini sudah merupakan level terendah sejak 2020. Ini bukan anomali—BoJ memang menjalankan kebijakan moneter yang berbeda jalur selama bertahun-tahun, dan normalisasinya berlangsung jauh lebih lambat dan hati-hati dibanding rekan-rekannya di Barat.
Implikasinya bagi pasar modal tidak bisa diabaikan. Likuiditas global yang disuntikkan melalui quantitative easing pasca-2020 adalah salah satu bahan bakar utama rally aset berisiko—saham teknologi, crypto, emerging market, hingga real estate. Ketika stimulus itu dicabut secara sistematis, cost of capital naik, valuasi ditekan, dan investor dipaksa lebih selektif. Kita sudah melihat efeknya di 2022: tahun terburuk bagi obligasi dalam beberapa dekade, sell-off tajam di growth stocks, dan tekanan besar pada aset EM.
Yang menarik adalah bahwa proses unwinding ini sudah sejauh ini—namun pasar saham AS justru kembali ke level all-time high. Artinya pasar tidak semata-mata bergantung pada likuiditas bank sentral seperti yang banyak diasumsikan. Earnings growth, khususnya di sektor AI dan teknologi, mengambil alih sebagian peran tersebut sebagai katalis.
Tapi kondisi saat ini juga berarti ruang untuk stimulus baru tersedia kembali jika ekonomi memburuk. Fed yang sudah di 21% punya kapasitas untuk kembali ekspansif jika resesi benar-benar datang—berbeda dengan posisi mereka di 2021 ketika balance sheet sudah overextended. Dari sudut pandang itu, normalisasi ini sebenarnya adalah restoring capacity, bukan sekadar pengetatan.
Bagi investor, satu takeaway penting: era di mana likuiditas berlimpah menutupi semua kesalahan alokasi sudah berakhir. Stock picking dan fundamental analysis kembali relevan—dan itu seharusnya kabar baik bagi investor yang benar-benar mengerjakan PR-nya.