Latin America dan Caribbean (LAC) masuk 2026 dengan satu masalah struktural yang tidak kunjung selesai: productivity gap yang terus melebar dibanding kawasan lain. GDP growth jangka panjang diproyeksikan stagnan di kisaran 2% — angka yang tidak cukup untuk mengangkat standar hidup secara signifikan, apalagi memangkas kemiskinan. Sekitar 25% populasi masih hidup di bawah garis kemiskinan, dan hampir 55% tenaga kerja beroperasi di sektor informal. Ini bukan sekadar statistik — ini adalah structural drag yang menekan daya beli, konsumsi domestik, dan pada akhirnya, investasi.
Yang memperparah situasi: fiscal space semakin sempit. Utang publik yang tinggi ditambah suku bunga global yang masih elevated membuat cost of borrowing naik, membatasi ruang pemerintah untuk stimulus atau investasi infrastruktur. Dalam konteks ini, setiap dollar investasi yang masuk — baik dari multilateral maupun swasta — punya multiplier effect yang lebih besar dari biasanya.
Tapi ada sisi lain yang menarik. LAC duduk di atas cadangan mineral kritis yang semakin diincar dunia — lithium, copper, nickel — komoditas yang jadi tulang punggung transisi energi global. Ini bukan sekadar windfall commodity biasa; ini adalah strategic positioning yang bisa mengubah struktur ekspor kawasan jika dikelola dengan benar. Pertanyaannya adalah apakah institutional capacity di masing-masing negara cukup kuat untuk memonetisasi peluang ini tanpa jatuh ke dalam resource curse yang sudah terlalu sering terjadi di kawasan ini.
Dari sisi mobilisasi kapital, ada sinyal yang cukup positif. Total direct third-party financing yang berhasil dimobilisasi selama 2024–2025 mencapai $19,9 miliar — didorong oleh mekanisme seperti guarantees, originate-to-share model, dan structured co-financing. Artinya, model blended finance mulai terbukti bisa menarik private capital ke proyek-proyek yang sebelumnya dianggap terlalu berisiko. Ini penting, karena tanpa leverage dari swasta, skala investasi yang dibutuhkan LAC tidak akan pernah terpenuhi hanya dari balance sheet pemerintah atau multilateral.
Beberapa sektor menunjukkan hasil konkret:
- Infrastruktur dan energi mencatat improvement signifikan dalam project completion rate — seluruh XSR di segmen ini rated positively di 2025, setelah tiga tahun berturut-turut mengalami penurunan.
- Digital connectivity menjangkau 11 juta orang dengan akses broadband baru — relevan untuk produktivitas jangka menengah dan akses ke pasar tenaga kerja formal.
- Sektor korporat — terutama tourism — menunjukkan post-pandemic recovery yang solid, meski tetap rentan terhadap weather events dan kondisi makro yang volatile.
Yang masih menjadi concern adalah effectiveness di level project execution. Hampir separuh proyek di segmen financial institutions gagal fully achieve development objectives-nya — bukan karena desain yang buruk, tapi karena sensitivitas tinggi terhadap kondisi eksternal yang berubah cepat: forex volatility, political disruption, dan sector-specific shocks. Ini mengingatkan bahwa di LAC, country risk dan execution risk tetap dua variabel yang tidak bisa diabaikan dalam setiap investment thesis.
Bottom line-nya: LAC bukan kawasan yang bisa diabaikan, tapi juga bukan yang bisa dimasuki dengan asumsi sederhana. Peluang ada — di mineral kritis, infrastruktur, digital economy — tapi semuanya terikat pada satu kondisi yang sama: kualitas institusi dan rule of law. Tanpa itu, capital mobilization sebesar apapun hanya akan menghasilkan proyek-proyek yang underdeliver.