Presiden Prabowo tegaskan peran Danantara dan efisiensi MBG. Apa artinya bagi IHSG dan pasar modal Indonesia ke depan?
Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo yang disampaikan dalam dua sesi membawa sejumlah poin yang cukup dinantikan pasar. Setidaknya dari sesi pertama, ada dua hal yang langsung relevan bagi investor saham dan kondisi IHSG secara keseluruhan.
Pertama, soal PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Prabowo menegaskan bahwa DSI tidak akan berperan sebagai eksportir tunggal komoditas — sebuah klarifikasi penting yang selama ini menjadi sumber ketidakpastian di pasar. Fungsi DSI difokuskan pada pengawasan ekspor komoditas, khususnya untuk memberantas praktik under invoicing dan memastikan harga jual sesuai harga pasar internasional.
Bagi investor, ini adalah sinyal yang konstruktif. Kekhawatiran bahwa DSI akan mendistorsi rantai ekspor komoditas — yang selama ini menjadi backbone dari banyak emiten di sektor pertambangan dan perkebunan — setidaknya teredam. Transparansi harga jual yang lebih ketat justru bisa memperkuat fundamental emiten komoditas dalam jangka panjang, karena potensi kebocoran nilai ekspor bisa diminimalkan.
Kedua, soal program Makan Bergizi Gratis (MBG). Presiden menegaskan program ini tetap berlanjut, namun dengan pendekatan yang lebih efisien. Frasa "efisiensi" di sini menjadi kata kunci — di tengah tekanan fiskal dan target defisit anggaran yang masih dijaga ketat, pemerintah tampaknya tidak akan mengorbankan disiplin fiskal demi ekspansi program sosial secara besar-besaran.
Detail angka anggaran MBG dan target defisit 2027 baru akan diungkap pada sesi kedua pidato kenegaraan. Ini yang paling ditunggu pasar — karena dari sana bisa terbaca seberapa agresif stimulus fiskal yang akan digelontorkan, dan seberapa besar upside atau downside risk bagi IHSG dari sisi kebijakan pemerintah.
Secara keseluruhan, tone dari sesi pertama ini cukup market-friendly. Tidak ada kejutan negatif, tidak ada kebijakan yang berpotensi mengganggu iklim investasi. Bagi pelaku pasar yang selama ini wait-and-see menjelang pidato kenegaraan, sinyal ini bisa menjadi katalis jangka pendek yang mendukung sentimen positif di pasar modal Indonesia.
Perhatian berikutnya ada di sesi kedua — terutama pada angka konkret defisit anggaran 2027 dan alokasi MBG. Dari sana, pasar akan punya gambaran lebih jelas tentang arah kebijakan fiskal Indonesia untuk tahun depan.