Angka +804.7% year-on-year untuk net profit bukan typo. TINS (PT Timah) membukukan laba bersih Rp2,7 triliun di 1H26 — melampaui 80% dari proyeksi full-year sebelum semester kedua bahkan dimulai. Ini bukan sekadar base effect dari 1H25 yang memang lemah, tapi cerminan dari pemulihan operasional yang nyata.
Revenue 1H26 mencapai Rp10,4 triliun (+146,9% y-y), didorong kombinasi volume penjualan refined tin yang naik 85,1% y-y ke 11,0kt dan average selling price (ASP) US$49,8k/t — naik 51,7% dibanding periode yang sama tahun lalu. Cash margin melebar ke US$27,3k/t (+55,2% y-y), yang artinya setiap ton timah yang dijual TINS menghasilkan spread yang jauh lebih sehat dibanding setahun sebelumnya.
Yang menarik, 2Q26 justru lebih soft secara sequential: revenue turun 9,3% q-q dan net profit turun 19,1% q-q. Penyebabnya adalah dua gangguan bersamaan — kerusakan kompresor Ausmelt yang tak terjadwal dan penyesuaian jadwal ekspor. Tapi gross margin di 2Q26 justru naik ke 39,3% (vs 38,6% di 1Q26), yang menunjukkan bahwa pricing power tetap terjaga meski volume terganggu. Ini poin penting: ketika operasional pulih, leverage ke bottom line bisa sangat besar.
Dari sisi cost, cash cost naik 11% y-y ke US$22,4k/t, dipengaruhi kenaikan biaya bahan bakar, biaya mitra, spare parts, dan shipping. Namun ada satu faktor yang membatasi tekanan ke depan: harga beli bijih dari mitra ditetapkan di Rp300k/kg — tidak berubah. Artinya, risiko kenaikan biaya pengadaan bijih relatif terkendali. Variabel cost yang paling perlu diperhatikan ke depan adalah fuel dan royalti.
Soal royalti — ini adalah wildcard yang belum dimasukkan ke base case. Manajemen menyatakan revisi skema royalti untuk timah tidak akan diimplementasikan di 2026. Selama ini masih berlaku, earnings estimate aman. Tapi ini tetap regulatory risk yang harus dimonitor.
Untuk 2H26, thesis utamanya adalah production recovery. Kompresor sudah diperbaiki, tidak ada major maintenance terjadwal, dan empat kapal offshore tambahan berpotensi beroperasi mulai 3Q26 atau paling lambat 4Q26. Proyeksi ore output FY26 di 24,1kt (+29,3% y-y) dengan kontribusi terbesar dari 4Q26 — quarter di mana kapasitas produksi seharusnya sudah fully ramped up.
Revisi earnings pun signifikan: FY26F net profit dinaikkan 34,1% ke Rp4,51 triliun, meski asumsi volume produksi justru dipangkas ke 23,7kt (-21% vs estimasi lama). Upgrade ini murni ASP-driven — asumsi LME tin dinaikkan ke US$53k/t, yang mendorong gross margin FY26F ke 34,3% dan EBITDA margin ke 29,8%. Cash margin diproyeksikan di sekitar US$28,3k/t meski cash cost naik ke US$24,7k/t.
Secara global, LME tin sudah rally 37,6% YTD 2026 — outperform semua major base metals termasuk copper dan aluminium. Inventory di LME dan SHFE tetap di level historis yang rendah, mencerminkan supply tightness yang struktural, bukan siklus. Indonesia sebagai produsen refined tin terbesar kedua di dunia menjadi swing supplier yang krusial dalam menjaga keseimbangan pasar global.
Dari sisi valuasi, dengan harga saham Rp3.890, TINS diperdagangkan di sekitar 6,4x FY26F P/E — jauh di bawah rata-rata peers domestik maupun global. Target price Rp4.800 mengimplikasikan upside ~23% dengan asumsi multiple 8,0x FY26F P/E, atau +1 standar deviasi di atas rata-rata tiga tahun. Multiple ini tergolong konservatif mengingat siklus harga timah yang masih kuat, dan sengaja tidak dinaikkan lebih tinggi karena upgrade earnings ini bersifat ASP-driven — bukan volume-driven yang lebih sustainable.
Balance sheet juga semakin solid: net gearing diproyeksikan masuk ke zona negatif (net cash) di FY26F, dengan cash position yang bisa mencapai Rp3,8 triliun akhir tahun dan terus membaik ke Rp7,1 triliun di FY27F. Ini memberikan buffer yang cukup untuk capex ekspansi kapal maupun kebutuhan working capital yang meningkat seiring scale-up produksi.
Risiko utama yang perlu dicermati: normalisasi harga LME tin jika supply dari Myanmar atau sumber lain pulih lebih cepat dari ekspektasi, potensi implementasi royalti baru yang masih menggantung sebagai regulatory overhang, serta ketergantungan pada recovery produksi 4Q26 yang kalau terlambat akan menekan full-year delivery.