Jumlah saham S&P 500 dengan forward P/E di atas 40x turun ke level terendah sejak Covid. Apakah ini sinyal akhir spekulasi, atau justru jebakan analisis?
Ada data menarik yang beredar di kalangan analis pasar global belakangan ini: jumlah saham dalam indeks S&P 500 yang diperdagangkan di atas 40x forward P/E telah turun ke level yang terakhir terlihat saat bear market Covid 2020 dan koreksi tajam 2022. Sekilas, ini terdengar seperti kabar baik — seolah spekulasi sudah mereda dan pasar kembali ke valuasi yang lebih rasional. Tapi membaca data ini secara harfiah bisa menjadi jebakan analitis yang cukup berbahaya.
Masalah dengan Forward P/E sebagai Alat Ukur Spekulasi
Forward P/E pada dasarnya adalah rasio harga terhadap proyeksi earnings — bukan earnings yang sudah terjadi. Dan di sinilah letak masalah fundamentalnya. Proyeksi bisa salah, bisa dimanipulasi oleh guidance manajemen yang terlalu optimistis, dan bisa runtuh dalam hitungan kuartal ketika kondisi makro berubah.
Pola ini bukan hal baru. Menjelang bubble dot-com awal tahun 2000, banyak saham teknologi tampak seperti kandidat growth at a reasonable price (GARP) berdasarkan forward earnings yang diproyeksikan analis. Kenyataannya? Growth yang diproyeksikan itu menguap hampir seketika begitu siklus kredit berbalik dan permintaan iklan digital ternyata jauh di bawah ekspektasi. Saham-saham yang tampak "murah" secara forward P/E ternyata adalah yang paling mahal secara aktual.
Itulah mengapa trailing twelve months P/E (T12M) — yang menggunakan earnings yang sudah benar-benar dibukukan — secara historis dianggap sebagai ukuran yang lebih konservatif dan lebih jujur. Ia tidak bergantung pada asumsi pertumbuhan yang belum tentu terwujud.
Kenapa Jumlah Saham 40x Bisa Turun Tanpa Spekulasi Mereda?
Ada beberapa mekanisme yang bisa menjelaskan penurunan jumlah saham di atas 40x forward P/E — dan tidak semuanya mencerminkan berkurangnya risk appetite di pasar:
- Earnings catch-up: Jika earnings aktual tumbuh lebih cepat dari harga saham, maka P/E turun secara matematis — bukan karena saham jadi lebih murah, tapi karena denominator-nya membesar.
- Rotasi ke segmen yang tidak terlihat oleh forward P/E: Spekulasi bisa bermigrasi ke saham-saham yang belum profitable sama sekali — di mana forward P/E tidak bisa dihitung karena earnings-nya negatif. Saham-saham unprofitable dengan growth story yang kuat justru sering menjadi wahana spekulasi paling ekstrem.
- Options flow dan leverage tersembunyi: Volume options, terutama short-dated calls pada saham individual, bisa mencerminkan aktivitas spekulatif yang masif tanpa terlihat sama sekali dalam metrik valuasi tradisional.
- Private credit dan private equity: Sebagian besar risk-taking saat ini terjadi di pasar privat yang tidak tercermin dalam data saham publik.
Dalam pasar yang sangat terkonsentrasi seperti S&P 500 saat ini — di mana sepuluh saham teratas menyumbang porsi yang tidak proporsional terhadap total market cap — seluruh "froth" bisa tersimpan di nama-nama mega-cap tersebut sementara jumlah saham dengan multiple ekstrem terlihat bersih secara statistik. Breadth dari extreme multiples hanya mengukur satu dimensi dari excess. Ini bukan gambaran lengkap.
Konteks Historis yang Perlu Diingat
Ada perspektif yang lebih mengejutkan lagi: dalam konteks 150 tahun sejarah pasar saham Amerika, valuasi "normal" secara historis berada di kisaran 10x hingga 15x earnings. Standar ini tentu saja dipengaruhi oleh era suku bunga tinggi, inflasi yang volatile, dan struktur ekonomi yang sangat berbeda. Namun angka ini memberikan anchor yang penting: bahwa bahkan 40x P/E sebagai "batas bawah" spekulasi pun masih jauh di atas rata-rata historis jangka panjang.
Artinya, pertanyaannya bukan sekadar apakah jumlah saham di atas 40x sudah turun — melainkan apakah level valuasi keseluruhan pasar masih mencerminkan premi yang wajar untuk lingkungan makro saat ini.
Variabel Makro yang Menentukan Segalanya
Forward P/E adalah konstruksi yang dibangun di atas tiga asumsi besar: inflasi, suku bunga, dan pertumbuhan ekonomi — dalam urutan kepentingan tersebut. Ketiga variabel ini saling berinteraksi secara kompleks dan bisa berubah dengan cepat.
Jika inflasi kembali naik — misalnya karena tarif impor, supply chain disruption, atau lonjakan harga komoditas — maka bank sentral akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi lebih lama. Discount rate yang lebih tinggi secara langsung menekan valuasi saham growth, terutama yang forward earnings-nya jauh di masa depan. Dan jika pertumbuhan ekonomi melambat bersamaan, maka earnings yang diproyeksikan pun bisa direvisi turun secara masif — membuat forward P/E yang tampak "rendah" tiba-tiba melonjak kembali.
Inilah skenario yang paling berbahaya: pasar yang tampak tenang secara metrik, padahal underlying assumptions-nya sedang dalam tekanan dari berbagai arah sekaligus.
Pertanyaan yang Lebih Relevan untuk Investor
Daripada bertanya "di mana spekulasinya?", pertanyaan yang lebih produktif untuk investor dan trader dalam konteks analisa saham saat ini mungkin adalah: di mana rotasinya? Jika uang keluar dari saham-saham high-multiple, ke mana ia pergi? Apakah ke value stocks, ke sektor defensif, ke fixed income, atau ke aset alternatif?
Memahami arah rotasi kapital — bukan sekadar membaca snapshot valuasi — adalah kunci untuk memposisikan portofolio secara tepat dalam siklus pasar yang sedang berlangsung. Data 40x forward P/E memberikan satu titik data yang berguna, tapi jauh dari cukup untuk menyimpulkan bahwa era spekulasi sudah berakhir atau bahwa pasar sudah aman untuk dibeli secara agresif.