Uang beredar China bertambah US$6 triliun dalam setahun menjadi US$53,098 triliun. Simak analisis likuiditas global dan dampaknya ke pasar saham Indonesia.
Key Takeaways
- Jumlah uang beredar M2 China bertambah US$440 miliar pada Agustus hingga menyentuh rekor US$53,098 triliun, atau naik lebih dari US$6 triliun dalam 12 bulan terakhir.
- Pertambahan uang beredar China hampir lima kali lipat lebih besar dibanding Amerika Serikat, yang mencatat kenaikan M2 sebesar US$1,25 triliun ke level US$23,34 triliun pada periode yang sama.
- Total M2 gabungan kedua negara kini berada di angka US$76,4 triliun, level tertinggi sepanjang sejarah perbankan modern.
- Limpahan likuiditas raksasa yang tertahan di perbankan memberi bantalan harga bagi komoditas tambang, namun memicu risiko penurunan daya beli bagi pemegang kas tunai.
Uang beredar di China bertambah US$440 miliar hanya dalam satu bulan pada Agustus, membawa total M2 negara tersebut ke rekor US$53,098 triliun. Dalam 12 bulan terakhir, sistem perbankan China memompa tambahan likuiditas lebih dari US$6 triliun ke dalam sistem keuangannya. Angka ini kontras jika disandingkan dengan Amerika Serikat, di mana M2 naik US$1,25 triliun dalam rentang waktu yang sama ke level US$23,34 triliun. Jika digabungkan, total suplai uang dari dua raksasa ekonomi dunia ini kini mencapai US$76,4 triliun.
Bagi investor yang melakukan analisa saham dan memantau pergerakan pasar modal, angka ini bukan sekadar statistik perbankan biasa. Ini adalah sinyal pergeseran besar dalam struktur likuiditas global yang langsung memengaruhi valuasi aset riil, pergerakan nilai tukar, dan arah arus dana asing ke IHSG.
US$53 Triliun di China vs US$23 Triliun di Amerika Serikat
Banyak pemula di dunia investasi bingung melihat ukuran uang beredar China yang lebih dari dua kali lipat ukuran uang beredar Amerika Serikat, padahal produk domestik bruto (PDB) nominal AS lebih besar. Kuncinya ada pada cara kedua negara membiayai ekonominya.
Bagi yang baru belajar membaca data makro, M2 adalah indikator jumlah uang beredar luas yang mencakup uang kartal fisik, rekening giro, tabungan masyarakat, hingga deposito berjangka pendek di bank. Di Amerika Serikat, korporasi mencari modal langsung lewat pasar obligasi korporasi dan penerbitan saham di Wall Street. Uang berputar langsung antar-investor tanpa harus selalu mengendap di neraca bank umum.
Sebaliknya, sistem keuangan China bertumpu pada perbankan negara. Ketika pemerintah daerah atau badan usaha milik negara di China membangun jalan tol, kawasan industri, atau jaringan kereta, pendanaannya berasal dari pinjaman bank BUMN. Dalam sistem pencatatan perbankan ganda, setiap kredit baru yang disalurkan otomatis menciptakan simpanan baru. Pinjaman korporasi langsung tercatat sebagai lonjakan simpanan giro dan deposito, yang langsung menggelembungkan angka M2.
Uang Melimpah Tetapi Menumpuk di Deposito
Masalah terbesar China saat ini bukan kekurangan uang, melainkan perputaran uang yang lambat. Penambahan likuiditas sebesar US$6 triliun dalam setahun belum mampu mengangkat belanja konsumen domestik mereka ke tingkat yang sehat.
Ibarat sebuah perumahan yang dipasangi pipa air berdiameter raksasa dengan pasokan air melimpah dari waduk pusat, namun setiap warga menutup rapat keran di rumah masing-masing karena khawatir menghadapi masa paceklik. Air menggenang penuh di tangki penampungan utama dan pipa distribusi, tetapi kebun warga di halaman tetap kering kerontang.
Di China, sebagian besar dari US$6 triliun dana baru tersebut tersedot kembali ke dalam produk deposito korporasi dan tabungan rumah tangga. Kepercayaan konsumen yang masih tertahan akibat kelesuan sektor properti membuat masyarakat memilih menimbun uang dengan bunga rendah daripada membelanjakannya untuk konsumsi atau proyek baru. Akibatnya, efek dorongan likuiditas ke ekonomi riil menjadi tumpul.
Efek Limpahan ke Komoditas dan Bursa Domestik
Ketika suplai uang fiat membengkak hingga puluhan triliun dolar sementara pertumbuhan barang riil tidak sebanding, nilai riil dari uang tunai tergerus secara perlahan. Likuiditas yang mengendap ini pada akhirnya mencari pintu keluar untuk melindungi nilai.
Ada dua jalur utama bagaimana angka US$53 triliun ini memengaruhi strategi trading saham dan portofolio jangka panjang di Indonesia:
Pertama, perlindungan nilai lewat aset komoditas. Ketika bank sentral melonggarkan keran uang, modal swasta yang cerdas perlahan mengalir ke aset berwujud seperti emas batangan, tembaga, perak, dan bahan baku energi. Saham-saham produsen komoditas dasar di IHSG, khususnya emiten tambang tembaga, emas, dan nikel, mendapatkan lantai harga yang kuat karena pasar mengantisipasi penurunan daya beli mata uang kertas dunia.
Kedua, tekanan terhadap nilai tukar mata uang regional. Perbedaan laju pencetakan uang yang sangat jomplang antara China (+US$6 triliun) dan AS (+US$1,25 triliun) membuat mata uang Yuan menghadapi tekanan depresiasi terhadap dolar AS. Ketika Yuan melemah, mata uang negara-negara mitra dagang utama di Asia, termasuk Rupiah, ikut terkena imbas pelemahan secara relatif. Emiten domestik yang memiliki beban utang berdenominasi dolar AS tanpa lindung nilai operasional akan mencatatkan pembengkakan beban keuangan di laporan laba rugi.
Sebaliknya, emiten berorientasi ekspor yang membukukan pendapatan dalam dolar AS dengan biaya operasional berbasis Rupiah justru menikmati pelebaran margin laba operasi.
Yang Bisa Membatalkan Thesis Likuiditas Ini
Dalam menyusun riset saham yang objektif, kita wajib memetakan kondisi apa yang bisa mengubah arah pembacaan pasar. Thesis bahwa likuiditas China akan menopang harga komoditas dan memicu diversifikasi aset bisa berbalik jika dua hal ini terjadi.
Faktor pertama adalah pengetatan moneter mendadak oleh otoritas moneter China untuk menahan kejatuhan nilai tukar Yuan. Jika bank sentral di sana memilih menyedot kembali likuiditas perbankan demi menjaga stabilitas mata uangnya, dorongan harga pada komoditas industri bisa terhenti seketika.
Faktor kedua adalah potensi eskalasi tarif perdagangan baru dari negara-negara barat terhadap barang ekspor China. Jika kapasitas pabrik China yang dibiayai oleh tumpukan kredit bank tersebut tidak bisa diserap oleh pasar ekspor karena hambatan bea masuk, pabrik-pabrik tersebut akan terpaksa memangkas harga barang gila-gilaan untuk bertahan hidup. Skenario ekspor deflasi ini akan menekan laba emiten manufaktur global dan memukul margin pendapatan emiten penghasil komoditas pendukungnya.