LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Pola Musiman S&P 500: Reli Kuartal Empat Menjelang Pemilu

Riset historis sejak 1928 mencatat S&P 500 rata-rata naik +2,1% di awal Oktober tahun pemilu sela. Simak efek likuiditasnya ke pasar saham dan IHSG.


Key Takeaways

  • Paruh pertama Oktober di tahun pemilu sela Amerika Serikat rata-rata mencatatkan kenaikan +2,1% sejak 1928, menjadi performa setengah bulanan terkuat di kuartal empat.
  • Peluang mencetak return positif (hit rate) pada awal Oktober mencapai 71%, berbalik arah dari rata-rata koreksi -1,1% di akhir September.
  • Penguatan berlanjut ke paruh pertama November dengan rata-rata kenaikan +1,7% dan rasio keberhasilan positif mencapai 79%.
  • Meredanya tekanan di pasar global membuka peluang masuknya kembali aliran dana asing (foreign flow) ke saham berkapitalisasi besar di IHSG.

Pasar saham memasuki Oktober setelah melewati paruh kedua September yang secara historis menjadi salah satu periode paling lemah dalam setahun. Catatan pergerakan indeks S&P 500 sejak 1928 memperlihatkan bahwa paruh kedua September rata-rata terkoreksi -1,1%. Namun, begitu kalender berganti ke awal Oktober pada tahun pemilu sela (midterm election), arah pasar berbalik secara konsisten.

Pembalikan Arah dari Tekanan September ke Rapor Hijau Oktober

Rata-rata kenaikan indeks S&P 500 mencapai +2,1% dalam dua pekan pertama Oktober pada periode tahun pemilu sela. Angka ini menempatkan paruh pertama Oktober sebagai periode setengah bulan dengan kinerja paling tinggi di sepanjang kuartal empat. Rasio kemenangan atau hit rate pada periode ini mencapai 71%, yang berarti dalam tujuh dari sepuluh siklus pemilu sela selama hampir satu abad terakhir, indeks selalu ditutup di zona hijau.

Cara kerja perputaran ini mirip dengan siklus pedagang grosir di pasar tradisional. Menjelang akhir bulan, pedagang cenderung menahan pesanan baru dan melepas sisa stok dengan harga lebih murah demi mengamankan uang kas. Begitu bulan baru berjalan dan kebutuhan akhir tahun mulai terlihat, mereka kembali belanja modal secara serempak. Tekanan jual yang sempat menekan harga saham di akhir September mereda, digantikan oleh akumulasi bertahap dari pengelola dana besar.

Fase Tenang Sebelum Reli Kuat di November

Pola musiman ini tidak bergerak dalam garis lurus. Memasuki paruh kedua Oktober, pergerakan indeks biasanya mengalami konsolidasi dengan kenaikan rata-rata yang lebih tipis sebesar +0,3% dan hit rate 62%. Pasar biasanya mengambil jeda sejenak untuk menimbang kepastian politik menjelang pemungutan suara.

Dorongan beli yang lebih kuat justru kembali terlihat pada paruh pertama November. Data historis mencatat rata-rata kenaikan indeks pada dua pekan awal November mencapai +1,7%, dengan tingkat keberhasilan mencetak return positif hingga 79%. Angka 79% ini merupakan salah satu tingkat kepastian statistik tertinggi dalam kalender pasar modal.

Mengapa tahun pemilu sela memiliki pola yang begitu teratur? Jawabannya ada pada premi risiko politik. Sebelum pemilu berlangsung, pelaku pasar selalu dibayangi ketidakpastian mengenai peta kebijakan pajak, anggaran belanja negara, dan kendali kursi parlemen. Begitu proses politik mendekati garis akhir, ketidakpastian tersebut berkurang drastis. Pasar saham menyukai kepastian. Ketika faktor risiko non-fundamental selesai dihitung, valuasi saham kembali disesuaikan dengan prospek laba emiten (earnings growth).

Efek Aliran Dana Global ke Pasar Saham Domestik

Penguatan di Wall Street bukan sekadar angka di bursa luar negeri. S&P 500 berfungsi sebagai barometer selera risiko global. Ketika pasar acuan dunia ini berada dalam tren naik yang solid, investor institusi cenderung mengurangi kepemilikan kas berdenominasi dolar dan kembali mengalokasikan likuiditas ke aset-aset yang menawarkan pertumbuhan lebih tinggi, termasuk bursa negara berkembang.

Bagi pasar modal Indonesia, tren musiman kuartal empat di bursa global kerap menjadi katalis peredam tekanan jual dana asing. Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar di IHSG seperti BBCA, BBRI, dan BMRI biasanya menjadi pihak pertama yang merasakan efek kembalinya arus modal asing ini karena memiliki likuiditas harian yang cukup dalam untuk menampung dana institusi.

Pola statistik historis tentu bukan garansi pergerakan masa depan tanpa risiko. Arah suku bunga acuan bank sentral dan rilis data inflasi bulanan tetap menjadi penentu utama valuasi pasar secara riil. Namun, mengabaikan tren statistik selama 96 tahun yang menunjukkan keunggulan awal Oktober dan paruh pertama November berarti melewatkan salah satu peta probabilitas paling berharga dalam kalender investasi saham.