Kinerja keuangan PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) pada paruh pertama tahun ini menunjukkan ketahanan yang cukup solid. Secara kumulatif, laba bersih sepanjang 1H26 berhasil mencapai IDR 784 miliar, tumbuh 38% secara YoY. Angka ini setara dengan 59% dari proyeksi setahun penuh, sebuah pencapaian yang berada di atas ekspektasi konsensus pasar.
Meskipun performa secara kumulatif cukup kuat, detail kuartalan pada 2Q26 menunjukkan dinamika yang perlu dicermati. Laba bersih pada 2Q26 tercatat sebesar IDR 331 triliun, mengalami penurunan sebesar 27% QoQ dan 9% YoY. Penurunan ini terjadi meskipun pendapatan perseroan masih mampu tumbuh tipis 7% YoY menjadi IDR 20,5 triliun.
Pergeseran portofolio produk menjadi motor utama pertumbuhan top-line. Penjualan telepon seluler dan tablet yang menjadi kontributor utama justru melemah 4% YoY di 2Q26. Namun, pelemahan ini berhasil dikompensasi oleh lonjakan signifikan dari segmen non-gadget. Penjualan active & lifestyle goods melesat 276% YoY, disusul oleh segmen komputer dan elektronik lainnya yang tumbuh 104% YoY. Diversifikasi produk ini mendorong gross margin naik menjadi 11,8% (+40bps YoY, +110bps QoQ).
Sayangnya, ekspansi pada gross margin tersebut tidak langsung mengalir ke bottom-line. Kenaikan operating expenses dan biaya di bawah garis (below-the-line expenses) menekan operating margin dan net margin masing-masing menjadi 2,6% dan 1,6% pada kuartal kedua ini.
Di sisi lain, perbaikan struktur modal menjadi poin positif yang krusial. ERAA berhasil melakukan deleveraging yang cukup agresif, terlihat dari penurunan total utang menjadi IDR 7,9 triliun dari sebelumnya IDR 12,5 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Langkah ini memangkas net gearing secara signifikan dari 114% menjadi hanya 61% di 2Q26, memberikan ruang finansial yang lebih sehat.
Memasuki paruh kedua tahun ini, normalisasi pertumbuhan tampaknya tidak terhindarkan. Efek basis yang menguntungkan (favorable base effect) dari pemulihan penjualan produk Apple tahun lalu diperkirakan akan memudar. Kendati demikian, dengan pencapaian 1H26 yang sudah mengamankan lebih dari separuh target tahunan, risiko penurunan (downside risk) terhadap kinerja setahun penuh relatif terkendali.