Pasar minyak global kembali masuk ke fase yang sangat sensitif. Bukan hanya karena harga minyak naik, tetapi karena sumber masalahnya berasal dari sisi pasokan: perang, gangguan jalur logistik, kerusakan infrastruktur energi, dan risiko berkepanjangan di Selat Hormuz. Banyak analyst memberikan outtlook sektor oil & gas menjadi OVERWEIGHT . Asumsi harga minyak 2026 juga dinaikkan cukup agresif dari USD65/barel menjadi USD100/barel . Ini menandakan bahwa pasar tidak lagi hanya membaca kenaikan minyak sebagai shock sementara, tetapi mulai melihat adanya risiko struktural: suplai energi global bisa ketat lebih lama dari perkiraan. Selat Hormuz: Titik Kecil yang Mengendalikan Pasar Energi Dunia Selat Hormuz adalah salah satu jalur energi paling vital di dunia. Lebih dari 20% aliran minyak dan LNG global melewati jalur ini. Ketika jalur ini terganggu, efeknya langsung terasa ke harga minyak, LNG, ongkos pengiriman, asuransi kapal, hingga inflasi global. Konflik AS–Iran y...
Tahun 2026 menjadi salah satu periode paling menarik untuk membaca siklus komoditas. Setelah rally kuat di awal tahun, banyak investor mulai bertanya: apakah ini awal dari supercycle baru, atau hanya efek sementara dari geopolitik, pelemahan dolar AS, dan fund flow yang masuk ke aset riil? Jawabannya tidak sesederhana “semua komoditas bullish”. Berdasarkan outlook Macquarie, pasar komoditas saat ini sedang masuk fase yang sangat selektif. Ada komoditas yang didukung oleh defisit struktural, ada yang naik karena supply shock, tetapi ada juga yang tetap rawan koreksi karena fundamental supply-demand-nya masih longgar. Driver Utama: USD Lemah, Middle East Risk, dan Fund Flow Ada beberapa faktor utama yang mendorong harga komoditas naik pada awal 2026. Pertama, pelemahan USD . Ketika dolar AS melemah, minat investor terhadap aset riil seperti komoditas biasanya meningkat. Komoditas menjadi salah satu pilihan hedge terhadap pelemahan mata uang dan risiko inflasi. Kedua, ri...