United Tractors (UNTR) menghadapi fase konsolidasi yang cukup menantang sepanjang semester pertama 2026. Langkah manajemen melakukan write-down penuh atas investasi di Supreme Energy Rantau Dedap (SERD) serta pembayaran terkait kawasan hutan di Stargate memicu non-recurring charges sebesar Rp3,3 triliun pada 1H26.
Keputusan menuliskan nilai investasi SERD menjadi nol diambil setelah kapasitas pembangkitan menyusut menjadi hanya 52-55 MW dari target awal 91 MW. Meskipun proyek tersebut masih menghasilkan EBITDA positif, arus kas yang dihasilkan tidak mampu memenuhi kewajiban pembayaran utang. Dengan menghentikan suntikan ekuitas maupun pinjaman pemegang saham baru, UNTR berhasil membatasi risiko penurunan kinerja (P&L downside) lebih lanjut dari aset ini di masa mendatang.
Di sisi operasional, tahun 2026 diproyeksikan sebagai reset year dengan ruang pertumbuhan yang relatif terbatas. Penjualan alat berat Komatsu diperkirakan flat di kisaran 4.000 unit, yang didominasi oleh 3.400 unit kategori mesin kecil dan 600 unit mesin besar.
Meski demikian, terdapat potensi peningkatan kinerja operasional secara selektif yang bergantung pada revisi persetujuan RKAB pada akhir Agustus. Alokasi produksi batubara Tuah Turangga Agung (TTA) berpeluang naik dari 7,5 juta ton menjadi 9,5-10,5 juta ton. Sementara itu, kontraktor penambangan Pamapersada Nusantara (Pama) menargetkan volume overburden removal (OB) naik 4% menjadi 950 juta bcm, dengan produksi batubara direvisi naik menjadi 135 juta ton. Namun, realisasi target ini masih dibayangi oleh tantangan logistik akibat musim kemarau yang menyulitkan transportasi sungai, serta waktu mobilisasi armada yang membutuhkan waktu sekitar dua bulan.
Untuk segmen komoditas non-batubara, volume penjualan emas Martabe dipertahankan pada target 80 ribu ons (koz), sedangkan target penjualan bijih nikel dinaikkan tipis menjadi 1,3 juta wmt dari sebelumnya 1,2 juta wmt.
Memasuki tahun 2027, indikasi awal pemulihan operasional masih terlihat moderat. Volume penjualan Komatsu diproyeksikan hanya tumbuh tipis menjadi 4.100 unit. Sementara produksi emas Martabe diperkirakan pulih ke rentang 80-100 koz, namun angka tersebut masih berada di bawah tingkat normalisasi historisnya. Dengan target harga di Rp27.500 dan ekspektasi dividend yield sekitar 4,7%, UNTR saat ini menawarkan total expected return sebesar 18,1% dengan rekomendasi netral, mencerminkan valuasi yang sudah fairly priced di tengah transisi portofolio bisnisnya.