Langsung ke konten utama

Postingan

Cara mengelola risiko dalam trading saham

Mengelola Risiko dalam Trading Saham: Panduan untuk Pemula Trading saham menawarkan potensi keuntungan yang menarik, namun juga mengandung risiko yang signifikan. Bagi pemula, mengelola risiko trading saham secara efektif sangatlah penting untuk meminimalisir kerugian dan meningkatkan peluang sukses. Berikut beberapa strategi utama untuk mengelola risiko dalam trading saham: 1. Pahami Profil Risiko Anda: Sebelum memulai trading, penting untuk memahami profil risiko Anda. Ini termasuk toleransi Anda terhadap kerugian, tujuan keuangan, dan horizon waktu investasi. Profil risiko Anda akan membantu menentukan strategi trading dan jenis aset yang sesuai untuk Anda. 2. Buatlah Rencana Trading: Rencana trading yang solid merupakan landasan untuk mengelola risiko. Rencana ini harus mencakup strategi trading Anda, target keuntungan dan kerugian, serta aturan untuk masuk dan keluar dari pasar. Pastikan rencana trading Anda realistis dan sesuai dengan profil risiko Anda. 3. Gunakan Diversifikasi:
Postingan terbaru

Kesalahan umum yang dilakukan trader saham pemula dan cara menghindarinya

Kesalahan Umum yang Dilakukan Trader Saham Pemula dan Cara Menghindarinya Sebagai pemula di dunia trading saham, wajar untuk melakukan beberapa kesalahan. Namun, penting untuk belajar dari kesalahan tersebut agar dapat meningkatkan peluang sukses di masa depan. Berikut adalah beberapa kesalahan umum yang sering dilakukan trader saham pemula dan cara menghindarinya: 1. Trading tanpa edukasi: Kesalahan: Memulai trading tanpa memahami dasar-dasarnya, seperti jenis-jenis saham, analisis teknikal dan fundamental, manajemen risiko, dan psikologi trading. Cara menghindarinya: Luangkan waktu untuk mempelajari ilmu trading saham dari berbagai sumber terpercaya, seperti buku, artikel, webinar, dan kursus online. 2. Mengikuti tren tanpa riset: Kesalahan: Membeli saham hanya karena sedang naik daun tanpa melakukan riset mendalam tentang perusahaan dan prospeknya. Cara menghindarinya: Lakukan analisis fundamental dan teknikal sebelum membeli saham untuk memahami nilai intrinsiknya dan potensiny

USD Index & UST Yield Anjlok Ini Dampaknya ke IHSG

  USD index dan UST yield jebol support. Turunnya USD dan bond yield akan memicu inflow dana asing ke pasar negara berkembang. Bullish, bullish dan bullish. Efek domino => USD melemah, Rupiah menguat, Dana asing masuk ke IHSG, Pasar saham naik > CUAN LEBAR

Siap Menyambut Siklus Pemangkasan Suku Bunga

  Siap menyambut siklus pemangkasan suku bunga. Semester 2 IHSG bakal all time high. Follow the trend till it ends. Channel instagram Rikopedia klik disini

Bulan Agustus Saham EXCL Cenderung Positif

  Bulan Agustus good season buat EXCL Mansek : Target saham sector telco. Target saham EXCL 3000

Target Pullback IHSG

  Target pullback IHSG kisaran level 7100 fibonacci 61.8%

Earning Season Q2 : Estimasi tanggal rilis laporan keuangan Q2 saham penghuni indeks LQ45

  Estimasi tanggal rilis laporan keuangan Q2 saham penghuni indeks LQ45. Katalis positif selanjutnya earning season Q2 2024. Akhir bulan july akan banyak emiten yang rilis LK Q2 ya. Source : Bloomberg terminal

Konsensus Target Saham EXCL

  Update konsensus target price saham EXCL. 87.5% analyst memberikan rekomendasi buy saham EXCL. Source bloomberg terminal

USD Index (DXY) Potensi Anjlok ke Level 102 Berikut Sektor dan Saham Yang Diuntungkan

  Turunnya angka inflasi AS dan semakin besarnya peluang pemangkasan suku bunga The Fed di bulan September membuat USD mulai melemah. secara teknikal USD index membentuk pattern symmetrical triangle potensi terus melemah ke area support 102. USD melemah artinya akan membuat nilai tukar rupiah terhadap USD bakal menguat. Penguatan rupiah akan menguntungkan sector property, bank dan telco. Rikopedia masih hold 3 saham BBTN BSDE EXCL . Disclaimer on bukan rekomendasi/ajakan buy hold sell saham. do your own research

Ketahanan Bitcoin vs Mata Uang Fiat Terhadap Inflasi

Ketahanan Bitcoin vs Mata Uang Fiat Terhadap Inflasi: Sebuah Perbandingan Bitcoin dan mata uang fiat, seperti Rupiah, memiliki karakteristik yang berbeda dalam menghadapi inflasi. Berikut adalah perbandingannya: Pasokan: Bitcoin: Pasokan Bitcoin terbatas pada 21 juta koin yang telah ditentukan sebelumnya. Hal ini membuatnya tahan terhadap inflasi karena pasokan tidak dapat diubah oleh otoritas pusat. Mata Uang Fiat: Pasokan mata uang fiat dikendalikan oleh bank sentral. Bank sentral dapat mencetak lebih banyak uang, yang dapat menyebabkan inflasi jika tidak dilakukan dengan hati-hati. Desentralisasi: Bitcoin: Bitcoin adalah mata uang kripto yang terdesentralisasi, artinya tidak ada otoritas pusat yang mengendalikannya. Hal ini membuatnya lebih tahan terhadap manipulasi oleh pemerintah atau institusi keuangan. Mata Uang Fiat: Mata uang fiat dikendalikan oleh bank sentral, yang dapat memanipulasinya untuk mencapai tujuan kebijakan moneter. Permintaan: Bitcoin: Permintaan Bitcoin did

Apakah Harga Bitcoin Akan Terus Naik?

Sulit untuk memprediksi apakah harga Bitcoin akan terus naik atau tidak. Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi harga Bitcoin, termasuk: Permintaan dan penawaran: Jika permintaan Bitcoin lebih tinggi daripada penawarannya, harganya akan naik. Sebaliknya, jika penawarannya lebih tinggi daripada permintaannya, harganya akan turun. Sentimen pasar: Jika investor optimis tentang masa depan Bitcoin, harganya cenderung naik. Sebaliknya, jika investor pesimis, harganya cenderung turun. Regulasi: Jika pemerintah memberlakukan regulasi yang lebih ketat terhadap Bitcoin, harganya bisa turun. Adopsi: Semakin banyak orang dan bisnis yang menggunakan Bitcoin, permintaannya akan semakin tinggi dan harganya pun bisa naik. Kompetisi: Ada banyak mata uang kripto lain yang bersaing dengan Bitcoin. Jika salah satu mata uang kripto ini menjadi lebih populer, Bitcoin bisa kehilangan nilainya. Beberapa ahli memprediksi bahwa harga Bitcoin akan terus naik dalam jangka panjang. Mereka percaya bahwa Bi

Bitcoin dan Saham Lebih Cuan Mana?

Bitcoin dan saham memiliki risiko dan potensi keuntungan yang sangat berbeda. Berikut perbandingannya untuk membantu Anda memutuskan mana yang lebih cuan: Bitcoin: Potensi Keuntungan Tinggi: Sepanjang sejarahnya, Bitcoin telah mengalami kenaikan harga yang fantastis. Namun, harganya juga sangat fluktuatif (naik turun liar). Resiko Tinggi: Investasi di Bitcoin dianggap sebagai investasi berisiko tinggi. Harganya bisa turun drastis dalam waktu singkat. Regulasi Belum Jelas: Regulasi mengenai Bitcoin masih belum jelas di banyak negara, termasuk Indonesia. Ini bisa menimbulkan ketidakpastian. Saham: Potensi Keuntungan Moderat: Umumnya saham memberikan keuntungan moderat dalam jangka panjang. Namun, kinerjanya tergantung pada perusahaan yang Anda beli sahamnya. Resiko Variatif: Risiko investasi saham tergantung pada jenis saham dan kondisi pasar. Regulasi Jelas: Investasi saham diatur dengan jelas oleh lembaga keuangan dan bursa efek. Kesimpulan: Bitcoin berpotensi cuan lebih tinggi,