Pasar saham Indonesia menghadapi beberapa tekanan struktural ‼️ Pertama, foreign flow masih lemah. Sejak Covid, arus asing cenderung sideways. Kedua, bobot Indonesia di indeks global makin kecil. Bobot Indonesia di MSCI EM turun ke sekitar 0,8%, Pasar saham Indonesia makin kurang relevan bagi fund global. Ketiga, Indonesia dianggap sebagai pasar “old economy”. Saat global sedang ramai AI, tech, dan new economy, Indonesia masih banyak diisi bank, komoditas, consumer, dan konglomerasi lama. Keempat, ada risiko makro dari harga minyak tinggi. Jika harga minyak bertahan dekat USD100/barel, maka GDP Indonesia bisa turun di bawah 5%, dan pertumbuhan laba emiten bisa turun dari 10,7% menjadi sekitar 5,4%. Foreign outflow Indonesia sangat besar mencapai US$2,4 miliar YTD dari saham, US$1,2 miliar YTD dari obligasi. Investor asing tidak sedang mencari cerita upside dulu. Mereka ingin melihat downside risks removal artinya risiko-risiko negatif harus berkurang dulu sebelum dana besar ...
Di tengah skenario harga minyak yang berpotensi bertahan tinggi lebih lama atau “higher for longer” , MEDC kembali menjadi salah satu saham yang menarik untuk diperhatikan. Thesis utamanya sederhana: MEDC adalah proxy upstream oil & gas Indonesia yang punya leverage kuat terhadap kenaikan harga minyak , tetapi tetap memiliki bantalan tambahan dari AMMN dan neraca yang mulai lebih sehat. Harga Minyak Tinggi Jadi Katalis Utama Rikopedia memperkirakan harga Brent bisa bertahan di sekitar USD85/barel pada 2026 . Ini bukan sekadar karena sentimen geopolitik, tetapi karena gangguan di Selat Hormuz membuat keseimbangan supply-demand minyak global menjadi jauh lebih ketat. Sebelum konflik, pasar minyak sebenarnya masih berada dalam kondisi oversupply. Namun, setelah gangguan di kawasan Gulf, surplus global diperkirakan menyempit tajam. Inilah yang membuat harga minyak berpotensi punya “floor” baru yang lebih tinggi. Bagi MEDC, kondisi ini sangat positif karena sekitar 50% lifting MEDC ...