Langsung ke konten utama

Postingan

Saham Oil MEDC Potensi Menguji Level Psikologis 2000

Saham oil related MEDC target 2000 ‼️ Laba dari PT Amman Mineral Internasional (AMMN) diperkirakan meningkat signifikan seiring kenaikan volume produksi tembaga dan emas. Kontribusi AMMN diperkirakan menyumbang sekitar 49–56% dari laba bersih konsolidasi MEDC pada 2026–2027. Selain itu kenaikan harga minyak global akibat ketegangan geopolitik dapat meningkatkan profitabilitas MEDC. MEDC memiliki rekam jejak positif dalam akuisisi aset migas yang menambah nilai (value-accretive M&A). Produksi minyak & gas MEDC pada tahun 2026 diperkirakan mencapai rekor tertinggi sekitar 165–170 kboepd, meningkat 6–9% YoY, didorong oleh tambahan kepemilikan di Corridor Block dan proyek baru di Blok B Natuna. MEDC potensi diuntungkan dari meroketnya harga oil
Postingan terbaru

Energy Shock Playbook: Oil Spike, Equity Correction

  Data dari Deutsche Bank (DB):  Reaksi pasar saham ketika terjadi konflik geopolitik yang memicu lonjakan harga minyak.  Data historis menunjukkan ketika terjadi konflik dan shock pasokan minyak, harga minyak rata-rata naik sekitar 26.9%, sementara pasar saham mengalami penurunan sekitar -6% dengan durasi koreksi sekitar 2–3 minggu. Apakah konflik akan mereda setelah 3 minggu?

Bond Yield Naik, Saham Tertekan: Apa yang Sedang Terjadi di Pasar Indonesia?

Bond Yield Naik, Saham Tertekan: Apa yang Sedang Terjadi di Pasar Indonesia? Pasar keuangan Indonesia saat ini menghadapi tekanan dari dua arah sekaligus: kenaikan yield obligasi dan lonjakan harga minyak global . Kombinasi ini bukan hanya sekadar volatilitas jangka pendek, tetapi bisa menjadi sinyal perubahan fase siklus pasar. 1. Yield Naik = Risk Premium Meningkat Yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun kini kembali naik ke kisaran 6.8% . Kenaikan ini mengindikasikan satu hal utama: Investor mulai meminta kompensasi risiko yang lebih tinggi terhadap Indonesia. Secara mekanisme pasar: Yield naik → harga obligasi turun Cost of capital naik Valuasi aset (termasuk saham) tertekan Lebih jauh lagi, dalam konteks equity: Higher yield = higher discount rate = lower valuation Inilah alasan kenapa kenaikan yield seringkali berbanding terbalik dengan pergerakan saham. 2. Minyak Naik = Tekanan Fiskal Indonesia Lonjakan harga minyak global menjadi katalis utama di ...

Market Shift 2026: Inflasi Naik, Komoditas Terbang, Crypto Tumbang

  ROTASI DARI RISK ASSET KE KOMODITAS Data YTD 2026 menunjukkan Commodities (DBC) menjadi aset dengan kinerja terbaik (+23%), disusul Gold (+19.5%). Sebaliknya, Bitcoin justru menjadi aset dengan performa terburuk (-22%). Commodities outperform, Bitcoin underperform kondisi serupa terakhir terjadi pada tahun 2022, ketika inflasi global melonjak akibat perang Rusia–Ukraina. Saat itu pasar mengalami rotasi besar energy dan commodities rally, Crypto dan sektor teknologi melemah. Jika pola historis tersebut kembali terulang pada 2026, maka skenario yang mungkin terjadi adalah Inflasi global kembali naik, market akan dihantui kenaikan suku bunga, Harga energi dan komoditas melonjak, Aset risk/high beta seperti crypto dan tech mengalami tekanan

The Great Rotation 2026: Dari Bitcoin ke Minyak & Emas

ROTASI : Tahun 2026 ada rotasi besar di pasar global dari aset berisiko tinggi seperti bitcoin menuju aset yang berkaitan dengan inflasi dan komoditas.  Harga minyak memimpin kenaikan dengan lonjakan sekitar 70% YTD, diikuti sektor energi yang naik sekitar 29% dan emas naik 18%. Sebaliknya, aset berisiko seperti bitcoin turun 19% Bitcoin turun lebih dulu, leading indicator dari penurunan risk assets lainnya. Selama beberapa tahun terakhir, Bitcoin dan pasar saham AS bergerak hampir searah. Namun kini pola tersebut mulai berubah. Bitcoin justru melemah sementara kapitalisasi pasar saham AS masih berada di level sangat besar sekitar $69 triliun. Perubahan korelasi ini memunculkan kekhawatiran bahwa Bitcoin bisa menjadi indikator awal melemahnya aset berisiko. Pelemahan Bitcoin saat ini bisa menjadi sinyal awal bahwa siklus risk asset mulai berbalik.

Batas Defisit 3% Terancam Diubah: Apa Risiko untuk Rupiah, Obligasi, dan IHSG?

  Wacana perubahan batas defisit APBN dari 3% berpotensi menimbulkan sejumlah risiko bagi stabilitas ekonomi. Defisit yang lebih besar berarti pemerintah harus menerbitkan utang lebih banyak untuk menutup kebutuhan pembiayaan. Peningkatan suplai obligasi ini dapat mendorong kenaikan yield SBN, sehingga biaya utang pemerintah menjadi lebih mahal dan berpotensi menekan sektor keuangan. Selain itu, pelebaran defisit juga dapat menurunkan kepercayaan investor terhadap disiplin fiskal Indonesia. Jika pasar menilai risiko fiskal meningkat, aliran modal asing berpotensi keluar dari pasar obligasi maupun saham, yang pada akhirnya dapat menekan nilai tukar rupiah. Analogi sederhananya seperti keluarga yang mulai sering menutup pengeluaran dengan kartu kredit . Selama masih terkendali mungkin tidak masalah, tetapi jika utangnya terus bertambah, bank bisa menilai risiko lebih tinggi dan menaikkan bunga pinjaman.  Risiko lain yang juga perlu diperhatikan adalah potensi penurunan peringkat...

The Great Rotation 2026: Saat Komoditas Mengalahkan Bitcoin dan Saham Teknologi

Tahun 2026 ada rotasi besar dari aset risk/high beta ke aset inflasi/komoditas. Commodities outperform, Bitcoin underperform Tahun 2026 YTD terlihat Commodities (DBC) berada di posisi teratas (+23%), Gold (+19.5%) dan Bitcoin (-22%) berada di posisi terbawah Terakhir kali commodities berada di top performer dan Bitcoin di posisi terbawah adalah di tahun 2022.  Pada tahun 2022 Inflasi global melonjak, Harga energi meroket karena perang Rusia vs Ukraina, Harga bensin AS tembus $5/gallon.  Jika pola 2022 terulang maka skenarionya Inflasi kembali naik, Energy & commodities rally, Crypto dan sektor tech melemah. Rotasi dari RISK ASSET ke KOMODITAS Selama 10 tahun terakhir pasar saham global didominasi oleh saham teknologi. Bobot sektor ini di S&P 500 terus meningkat hingga mencapai level tertinggi dalam sejarah. Sebaliknya, sektor energi dan material justru semakin kecil setelah bertahun-tahun mengalami underinvestment dan siklus komoditas yang lemah. Inflasi s...

Harga Minyak $100 Mengancam Asia: Pertumbuhan Turun, Inflasi Naik

  Menurut ekonom DBS, kenaikan harga minyak ke $100 dapat menekan pertumbuhan ekonomi dan mendorong inflasi di banyak negara Asia.  Indonesia misalnya diperkirakan mengalami penurunan pertumbuhan sekitar -0,4%, sementara inflasi naik sekitar +0,7%. Negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Thailand bahkan berpotensi menghadapi dampak yang lebih besar karena ketergantungan impor energinya tinggi. Selama harga oil masih di atas $80 sentimen masih jelek DURASI KONFLIK KUNCINYA Jika konflik lama → ekonomi global bakal tertekan Jika konflik cepat selesai → pasar saham bisa rebound cepat

IEA Lepas 400 Juta Barel, Tapi Pasokan Hormuz Hilang 20 Juta Barel/Hari — Cukupkah Menekan Harga Minyak?

IEA akan menyediakan 400 juta barel minyak ke pasar, yang merupakan pelepasan cadangan darurat terbesar yang pernah ada. Apakah bisa membuat harga oil turun di bawah 80 lagi? Berikut perhitungannya Jika G7 melepas 400 juta barel selama 6 bulan seperti krisis sebelumnya (Tahun 2022) Perhitungannya 400 juta barel ÷ 180 hari 2.2 juta barel per hari Bandingkan dengan supply yang hilang Supply yang hilang karena penutupan selat Hormuz 18–20 juta barel per hari, Sedangkan cadangan yang dilepas hanya 2.2 juta barel per hari Artinya hanya menutup sekitar 10% dari kekurangan supply. Zona aman harga minyak untuk ekonomi Indonesia di bawah $80. Selama perang Iran belum selesai dan harga minyak belum turun di bawah $80 estimasi IHSG masih berat buat naik.

Selat Hormuz Memanas: IHSG Tertekan Selama Minyak di Atas $80

  Dalam skenario normal tanpa gangguan, harga Brent diperkirakan stabil di kisaran $70 per barel. Namun jika Selat Hormuz ditutup selama 1 bulan, harga bisa naik mendekati $100. Jika gangguan berlangsung 2 bulan, harga berpotensi melonjak hingga $130–$140. Dalam skenario paling ekstrem, jika penutupan berlangsung 3 bulan, harga minyak bisa mencapai $150–$160 per barel, memicu krisis energi global. Bagaimana dampak ke ekonomi AS dan Indonesia? Dampak ke AS Harga minyak $100 memang menaikkan inflasi dan sedikit menekan pertumbuhan ekonomi AS. Namun Amerika sudah menjadi net oil exporter, sehingga harga minyak tinggi juga menguntungkan sektor energi domestik AS. Oil naik di atas $100 tidak terlalu berbahaya bagi ekonomi AS. Dampak ke Indonesia Ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak kini telah mencapai sekitar 65–68% dari total kebutuhan energi. Jika harga minyak terus naik maka dampak ke Indonesia adalah Defisit fiskal melebar, Inflasi naik, Rupiah dan IHSG bisa tertekan ...