Langsung ke konten utama

Postingan

VIX Turun 10%: Pasar Mulai Meredam Ketakutan Perang Timur Tengah

  VIX atau terkenal dengan indeks ketakutan turun 10% menunjukkan ketakutan pasar menurun. Kami tidak percaya perang ini akan berubah menjadi perang besar jangka panjang. Kami menilai kemungkinan besar konflik ini akan berakhir melalui negosiasi setelah tekanan militer tercapai, bukan perang global panjang. Perang ini tidak populer secara domestik di AS. Dapat memperburuk biaya hidup (inflasi energi). Trump kemungkinan tidak ingin perang panjang menjelang pemilu. Approval rating Trump sedang turun, terutama pada isu ekonomi & affordability (biaya hidup)
Postingan terbaru

Sejarah Berulang: Volatilitas Perang Biasanya Hanya Sementara

  Data dari Morgan Stanley. Volatilitas karena konflik geopolitik biasanya hanya bersifat sementara (short-lived). Belajar dari perang rusia ukraina dulu. Pasar volatile di awal2 perang saja setelah itu dilupakan.

Lonjakan Harga Minyak Picu Risiko Inflasi & Perlambatan Ekonomi Global

Perang yang meluas di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran akan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Berikut data dari goldman sachs dampak langsung kenaikan 10% harga minyak terhadap real GDP (dalam percentage point / pp) di berbagai negara. Guncangan inflasi akibat konflik juga merupakan poin utama yang menjadi perhatian investor. Setiap kenaikan 10% harga crude oil bisa membuat Core inflation naik ±4 bps & Headline inflation naik ±20–30 bps

Disruption, Duration, and Regime Change

  Disruption, Duration, and Regime Change   Bukan hanya konflik itu sendiri yang menentukan harga minyak, tetapi berapa lama Strait of Hormuz terganggu. Strait of Hormuz menyalurkan ±14 juta bpd crude + 5–6 juta bpd produk dan ~20% LNG global. Gangguan di jalur ini adalah shock sistemik terhadap pasar energi. Dunia bisa menyerap 1–2 minggu gangguan melalui stok & SPR. Namun setelah minggu ke-3, keterbatasan deliverability membuat harga melonjak tajam. Konflik >3 minggu → potensi oil shock besar dan repricing global risk asset.

Bull Market Emas Rata-Rata +300% — Apakah Target $6.000 Masuk Akal?

Data dari Bank of America (BofA) saat bull market rata2 kenaikan gold 300%. Target gold >6000 Data dari bank of America (BofA) Secara historis, bear market USD sejak 1970 rata-rata turun 30% peak-to-trough. dalam setiap episode bear market USD, Gold dan Emerging Market equities menjadi pemenangnya. Gold +141% (rata-rata), EM stocks +104%. Saham gold related : ARCI, EMAS, HRTA, BRMS, ANTM, AMMN, MDKA, BUMI, UNTR, INDY, CUAN, DEWA, PSAB

Rasio Emas-Oil Melejit ke 79x: Pasar Telah Memperhitungkan Risiko Perang Jauh Sebelum Serangan

  Konflik AS–Israel vs Iran pasar sudah dipricing pasar jauh sebelum serangan terjadi. Apa buktinya? Gold dan Oil sudah naik ±20% di 2026 (sebelum 28 Feb). Rasio ekstrem saat ini 1 ounce emas setara 79 barel WTI jauh di atas rata-rata historis sekitar 20x. Artinya, pasar mungkin sudah terlalu agresif mem-price in skenario terburuk.  Source : Bloomberg intelligence

Pasar Sudah Siap, Tapi Belum Selesai — Menguji Dampak Serangan Iran ke Aset Global

  Pasca serangan Iran, pasar global langsung bersiap dalam mode defensif. Minyak diperkirakan berpotensi naik menuju area $80 per barel, aset safe haven seperti emas, Swiss Franc, dan obligasi pemerintah jangka pendek menjadi incaran, sementara saham sektor energi dan pertahanan diproyeksikan mendapatkan re-rating valuasi. Dalam jangka pendek, sentimen risk-off hampir pasti mendominasi. Namun ada satu hal penting yang sering dilupakan investor: sebagian besar skenario ini sebenarnya sudah mulai dipricing jauh sebelum serangan terjadi. Militer buildup di kawasan Timur Tengah dalam beberapa minggu terakhir membuat pelaku pasar mengantisipasi kemungkinan eskalasi. Itu sebabnya harga minyak Brent sudah naik signifikan secara year-to-date, dan emas sudah mencetak kenaikan kuat bahkan sebelum headline resmi keluar. Artinya, pasar tidak lagi bereaksi pada “kejutan”, melainkan pada durasi dan skala konflik . Jika konflik berlangsung singkat dan terkendali, lonjakan minyak dan emas berpoten...

Chokepoint Dunia Diguncang: Jika Hormuz Terganggu, Oil Supercycle Bisa Dimulai

  Selat Hormuz adalah “chokepoint” energi global. Semua ekspor minyak dari Saudi Arabia, UAE, Qatar, Kuwait, Irak, dan Iran melewati jalur ini. Di selat ini mengalir sekitar 21 juta barel minyak per hari setara dengan 20–25% perdagangan minyak dunia via laut, serta hampir sepertiga perdagangan LNG global. Artinya? Jika terjadi gangguan di Selat Hormuz, bukan hanya Timur Tengah yang terdampak tetapi seluruh sistem energi dunia bisa terguncang. Risiko penutupan Selat Hormuz berpotensi mengganggu pasokan energi global, mendorong kenaikan harga minyak/gas, meningkatkan biaya logistik Saham terkait energi & distribusi: MEDC, ENRG, ELSA, AKRA, PGAS, BIPI, ESSA‼️ Sektor pelayaran & offshore: BULL, SOCI, HUMI, GTSI, SHIP, LEAD‼️

Menguasai Psikologi Trading: Dari FOMO ke Probability Mindset

Menguasai Psikologi Trading.  Tahukah Anda bahwa tingkat kesuksesan seorang trader di pasar keuangan kurang dari 5%? Banyak pemula yang terjun ke dunia trading dengan harapan menemukan indikator atau strategi magis yang bisa mendatangkan jutaan dolar dengan instan. Kenyataannya, tantangan terbesar dan paling menentukan dalam trading sama sekali bukanlah pada analisis teknikal, melainkan pada psikologi. Berikut adalah pelajaran psikologi trading terpenting yang akan membantu Anda membangun mindset seorang pemenang. Ubah Pola Pikir Anda Menjadi Probabilitas ( Probability Mindset )   Otak manusia pada dasarnya dirancang untuk selalu ingin mengontrol hasil dan merasa "benar" demi bertahan hidup, namun di pasar saham, Anda sama sekali tidak bisa mengontrol hasil akhir. Trader sukses melepaskan pola pikir mencari kepastian ini dan beralih menggunakan probability mindset (pola pikir probabilitas), yang berarti mereka memandang trading seperti sedang melempar koin. Mereka menyada...

Double Warning! Moody’s & S&P Kompak Naikkan Alarm Risiko Indonesia

  Setelah Moody’s mengubah outlook Indonesia menjadi negative, kini giliran S&P Global Ratings ikut memberi peringatan. Beban bunga utang sudah mendekati atau melewati batas aman (15% dari pendapatan negara), sementara penerimaan negara belum kuat. Defisit juga hampir menyentuh batas 3% PDB. Ketika sovereign risk naik dampaknya. Global fund manager kurangi exposure, EM allocation dipindah ke negara dengan narasi lebih kuat, Passive fund keluar. Asing akan cenderung defensive atau net sell

Proyeksi Pasar: Mengapa JCI (IHSG) Berpeluang Naik di Tengah Bayang-Bayang MSCI?

Kabar baik bagi para investor pasar modal Indonesia! Meskipun sempat ada kekhawatiran terkait peringatan dari MSCI (Morgan Stanley Capital International), Indeks Harga Saham Gabungan (JCI/IHSG) diproyeksikan memiliki peluang untuk naik dalam waktu dekat. Apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana strategi investasi yang tepat menyikapi hal ini? Mari kita bedah lebih dalam. Langkah Cepat Regulator Menjadi Katalis Positif Peluang kenaikan JCI ini sangat didukung oleh inisiatif regulasi yang sedang berjalan di Bursa Efek Indonesia (BEI) paska peringatan dari MSCI. Regulator tidak tinggal diam dan telah menyiapkan beberapa inisiatif utama yang beberapa di antaranya merupakan standar praktik global terbaik: Kewajiban pelaporan kepemilikan saham di atas 1%  (turun dari sebelumnya 5%). Perluasan data pemegang saham KSEI  dari yang saat ini hanya 9 jenis investor menjadi 27 atau lebih kategori investor. Langkah ini diyakini akan membantu MSCI mendapatkan angka  free float  (s...

IHSG di Lower End Cycle? Outflow Sudah Lampaui Pola Krisis Historis

Rata-rata outflow dana asing historis US$5.5bn. Saat ini sudah US$6bn+. Outflow saat ini sudah setara atau lebih besar dari rata-rata krisis sebelumnya. Artinya pasar saham Indonesia kemungkinan sudah dekat lower end of outflow cycle.