Minggu ini terjadi broad-based inflow ke semua aset : 1. SRBI +Rp10.9T (terbesar YTD) 2. Saham +Rp2.1T (7 minggu beruntun net buy) 3. SBN +Rp2.1T Minggu kedua Minggu kedua berturut-turut terjadinya broad-based inflows. Untuk data year to date asing tercatat keluar banyak ya: SRBI: -Rp122.1 triliun (outflow terbesar YTD) Equities: -Rp27.9 triliun Govt Bonds: -Rp2.8 triliun Minggu ini ada lonjakan inflow di SRBI, saham, dan obligasi secara bersamaan penyebabnya ada potensi window dressing + pricing in ekspektasi pemangkasan BI rate dan FFR di bulan Desember.
Danantara sebagai thematic key driver yang dapat menjadi “swing factor” bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam 2–3 tahun ke depan. Dengan kata lain, Danantara bisa menjadi katalis yang mengubah arah ekonomi nasional —bukan hanya melalui proyek investasi, tetapi juga melalui reformasi BUMN, efisiensi fiskal, dan arus pembiayaan global. Berikut analisa lengkapnya. 1. Modal Besar yang Selama Ini “Mengendap”, Siap Bergerak di 2026 Pada tahun 2025, sekitar USD 5 miliar dividen BUMN tidak masuk ke Kementerian Keuangan, tetapi ditampung oleh Danantara. Kondisi ini, ditambah lemahnya penerimaan pajak, membuat ruang fiskal pemerintah semakin sempit. Namun efek sampingnya: Likuiditas besar menumpuk di neraca Danantara , menunggu saat untuk dialokasikan. Kami memperkirakan bahwa pada 2026 , Danantara akhirnya akan mulai menyalurkan modal dalam jumlah besar , mencapai: USD 12–15 miliar yang berasal dari: Dividen BUMN 2025 Penjualan...