J.P. Morgan proyeksikan APAC ex-Japan EPS +54,3% di 2026, dipimpin Korea dan sektor teknologi. Simak implikasinya untuk investasi dan pasar modal Asia.
Laporan terbaru J.P. Morgan Asset Management dalam Market Insights | Daily Guide Asia (24 Juli 2026) memberi gambaran yang sulit diabaikan bagi siapa pun yang serius menggarap investasi di kawasan Asia-Pasifik. Angkanya bicara sendiri: APAC ex-Japan diproyeksikan mencatat pertumbuhan EPS +54,3% sepanjang 2026, sebuah lonjakan yang jauh melampaui rata-rata historis kawasan.
Motor utamanya jelas. Korea memimpin dengan proyeksi earnings growth +292,7%, diikuti Taiwan di +50,3%. Kedua pasar ini merupakan jantung rantai pasok semikonduktor global, sehingga lonjakan earnings mereka sejalan langsung dengan siklus belanja modal AI yang sedang berlangsung. Pemulihan harga memory chip dan permintaan yang kuat untuk advanced node menjadi katalis yang mendorong revisi laba ke atas.
Dari sisi sektoral, teknologi mendominasi dengan pertumbuhan EPS +196,7%. Angka ini memperkuat tesis bahwa AI kini menjadi driver earnings terbesar di Asia — bukan sekadar tema, melainkan sumber pendapatan riil yang tercermin di bottom line emiten. Bagi investor yang melakukan riset saham lintas kawasan, konsentrasi pertumbuhan di segmen teknologi ini sekaligus menjadi peluang sekaligus sumber risiko konsentrasi yang layak diperhitungkan.
Yang menarik, J.P. Morgan mengisyaratkan pergeseran karakter pertumbuhan menuju 2027. Fase explosive growth yang mewarnai 2026 diperkirakan bertransisi menjadi sustainable expansion. Meski demikian, proyeksi EPS APAC untuk 2027 tetap solid di +24,7%. Artinya, normalisasi ini bukan sinyal perlambatan struktural, melainkan pematangan siklus earnings dari basis yang sudah jauh lebih tinggi.
Implikasinya untuk strategi investasi cukup gamblang. Ketika earnings momentum sekuat ini terkonsentrasi di Korea, Taiwan, dan sektor teknologi, valuasi yang tampak mahal di permukaan bisa jadi masih terjustifikasi oleh earnings growth. Namun ketika pertumbuhan mulai melandai di 2027, kualitas earnings dan konsistensi cash flow akan lebih menentukan ketimbang sekadar top-line growth.
Bagi investor di pasar modal domestik, narasi ini juga relevan. Foreign flow yang mengejar tema AI di Asia Utara berpotensi menekan alokasi ke pasar seperti IHSG yang tidak memiliki eksposur semikonduktor sekuat Korea atau Taiwan. Memahami peta earnings kawasan menjadi bagian penting dari analisa saham yang menyeluruh, terutama saat menimbang trading saham berbasis rotasi sektor dan aliran dana lintas negara.
Tiga angka — +292,7%, +196,7%, +54,3% — pada akhirnya merangkum satu pesan: cerita investasi APAC sedang ditulis ulang, dan AI memegang penanya.
Sumber: Telegram @rikopedia