Eskalasi konflik di Timur Tengah yang berujung pada penutupan Selat Hormuz telah memotong hampir 20 juta barel pasokan minyak per hari—setara dengan seperlima kebutuhan dunia. Ini adalah salah satu supply shock terbesar sepanjang sejarah pasar energi global. Banyak pelaku pasar mencoba membandingkan situasi ini dengan guncangan tarif dagang AS pada awal 2025, yang sempat memicu kepanikan namun berakhir dengan bull run di akhir tahun. Namun, ekspektasi bahwa pasar akan kembali pulih dengan cepat di tahun 2026 adalah sebuah kekeliruan.
Perbedaan fundamental terletak pada arah kebijakan moneter. Pada tahun 2025, ketika perang tarif menekan pertumbuhan, inflasi global justru sedang melandai. Hal ini memberikan ruang bagi bank sentral untuk memangkas interest rates guna menopang likuiditas. Kondisi hari ini sangat bertolak belakang. Dengan lonjakan harga energi yang kembali memicu inflasi, opsi pelonggaran moneter praktis tertutup. Pasar kini justru mengantisipasi potensi kenaikan suku bunga di Eurozone dan Inggris, sementara harapan rate cut di AS sirna.
Tekanan tidak hanya datang dari suku bunga jangka pendek. Meningkatnya belanja pertahanan global dan defisit fiskal telah mendorong kenaikan long-term bond yields. Ketika seluruh yield curve bergeser ke atas, cost of capital bagi korporasi otomatis meningkat. Ini akan menekan profit margin dan membatasi ekspansi bisnis secara global.
Implikasinya terhadap pasar ekuitas dan aset berisiko sangat nyata. Likuiditas ketat mulai memicu aksi jual pada sektor-sektor dengan valuation premium, terutama saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) dan kripto. Selain itu, pasar private credit dan leveraged loans yang sempat sangat bergairah kini mulai menunjukkan keretakan akibat standar penjaminan emisi (underwriting) yang longgar selama masa easy money.
Era optimisme buta di pasar keuangan tampaknya telah berakhir. Kombinasi dari energy shock, inflasi yang persisten, dan suku bunga tinggi memaksa investor untuk melakukan kalkulasi ulang terhadap downside risk. Di tahun 2026, resilience bukan lagi jaminan, melainkan tantangan yang harus dibayar mahal.