Bank Mandiri (BMRI) membukukan net profit Rp15,0 triliun pada 2Q26, naik 33,5% yoy meski turun 2,3% qoq. Secara semesteran, laba mencapai Rp30,4 triliun atau tumbuh 24,4% yoy. Angka headline ini terlihat solid, tetapi mesin pertumbuhan utamanya bukan berasal dari core spread income. Dukungan terbesar justru datang dari non-interest income, efisiensi biaya, dan provision expenses yang turun 12,5% yoy.
Tekanan paling nyata berada pada net interest margin. NII 2Q26 turun 9,0% qoq menjadi Rp22,8 triliun, sementara NIM semester pertama menyusut ke 4,56% dari 4,70% pada 1Q26. Loan yield turun sekitar 20bp qoq, lebih besar daripada kenaikan funding cost sebesar 12bp. Di segmen corporate, yield bahkan turun 17bp menjadi 5,94%. Kondisi ini mendorong penurunan guidance NIM 2026 dari 4,5–4,7% menjadi 4,3–4,5%.
Di atas kertas, loan growth masih agresif. Gross loans tumbuh 19,2% yoy menjadi Rp1.677 triliun, terutama ditopang kredit corporate yang melonjak 33,6%. Namun NII hanya naik sekitar 8% yoy. Kesenjangan tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan aset belum menghasilkan incremental profitability yang sebanding karena porsi ekspansi lebih besar berasal dari wholesale lending ber-yield rendah. Perbandingan tahunan juga perlu dibaca hati-hati karena perubahan konsolidasi anak usaha membuat basis 2025 dan 2026 tidak sepenuhnya setara.
Funding mix menjadi risiko berikutnya. CASA hanya tumbuh 5,7% yoy, jauh tertinggal dari time deposits yang naik 54,4%. Akibatnya, CASA ratio turun tajam dari 76,6% menjadi 69,2%. Loan-to-deposit ratio masih terjaga di 92,3%, antara lain terbantu penempatan likuiditas pemerintah, tetapi kompetisi dana dan likuiditas sistem yang ketat berpotensi mempertahankan cost of funds pada level tinggi.
Sisi positifnya, asset quality belum memberikan sinyal bahaya. Gross NPL berada di 1,01%, loan at risk membaik menjadi 5,83%, dan credit cost rendah di 0,61%. NPL coverage sebesar 235% juga masih memadai. Tekanan di kredit micro, payroll, dan consumer tetap perlu dipantau, begitu pula eksposur kepada related parties yang telah mencapai 27% dari total kredit. Program pembiayaan Agrinas sendiri mencakup sekitar 3,5% dari loan book, sehingga pola pembayaran mulai 3Q26 akan menjadi indikator risiko penting.
Pada harga Rp4.130, BMRI diperdagangkan sekitar 6,6 kali forward P/E dan 1,3 kali P/B 2026, dengan indikasi dividend yield 11,4%. Valuasi ini terlihat murah dan ditopang ROE mendekati 20%, tetapi re-rating membutuhkan pemulihan NIM, perbaikan CASA, serta bukti bahwa ekspansi kredit korporasi mampu menghasilkan return yang lebih baik. Fair value Rp5.150 menyiratkan upside sekitar 24,7%, namun persistent margin pressure dan ketidakpastian alokasi modal bank BUMN masih membatasi ruang optimisme.