Semester pertama 2026 menjadi periode yang menarik—dan agak kontradiktif—bagi BRMS. Secara top-line, penjualan tercatat USD95,8 juta, turun sekitar 21% dari USD120,8 juta di periode yang sama tahun lalu. Laba bersih yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk bahkan lebih tajam: USD12,9 juta vs USD23,0 juta, atau turun hampir 44%. Kalau hanya lihat income statement, cerita ini memang bukan ekspansi yang mulus.
Tapi di balik penurunan profit, ada beberapa hal yang perlu dibedah. Gross profit margin masih di kisaran 57,8%, tidak banyak berubah dari 59,8% tahun lalu. Operating expenses naik tipis. Yang paling mengganggu bottom-line sebenarnya adalah beban bunga dan keuangan yang hampir dua kali lipat, dari USD7,6 juta menjadi USD13,3 juta, plus rugi selisih kurs sebesar USD2,0 juta—kontras dengan gain USD2,5 juta di 1H2025. Tahun sebelumnya juga sempat terbebani pos "others-net" negatif USD14,2 juta; tahun ini pos itu nyaris nol.Penurunan laba sebelum pajak berasal dari pelemahan kinerja operasional.
Bagian yang lebih penting justru ada di balance sheet dan cash flow. Total aset naik dari USD1,31 miliar menjadi USD1,41 miliar. Kas turun dari USD40,4 juta ke USD32,1 juta, sementara pinjaman jangka panjang neto naik signifikan dari USD165,8 juta menjadi USD264,1 juta. Arus kas dari aktivitas operasi malah negatif USD26,5 juta, dibanding positif USD20,3 juta tahun sebelumnya. Tekanan datang dari pembayaran ke pemasok, pemerintah, serta penambahan persediaan dan piutang. Persediaan membengkak dari USD20,3 juta ke USD37,2 juta. Artinya, produksi atau pembangunan proyek sedang menyerap banyak modal kerja.
Belanja modal juga agresif. Pembelian aset tetap USD42,5 juta, properti pertambangan USD23,2 juta, dan ada USD9,2 juta untuk akuisisi entitas anak. Totalnya melebihi operating cash flow, sehingga wajar kalau perusahaan mengandalkan utang baru USD108 juta. Ini bukan necessarily red flag—untuk perusahaan tambang yang masih dalam fase development, negative FCF adalah hal yang umum. Namun perlu dicermati: seberapa cepat proyek-proyeknya bisa menghasilkan cash flow dan membayar bunga yang semakin besar.
Portofolio BRMS sendiri cukup solid. Di Palu, emas sudah berkontribusi revenue. Gorontalo dan Dairi masih jadi katalis utama—Gorontalo punya resource 392 juta ton, sementara Dairi di zinc/lead dengan reserve 11 juta ton. Linge masih menunggu persetujuan IUP produksi. Beban bunga yang naik berarti manajemen bertaruh pada timing penyelesaian proyek. Kalau proyek molor, struktur utang bakal makin memberatkan; kalau jalan, leverage sekarang akan terbayar lewat peningkatan produksi dan skala ekonomi.
Intinya, BRMS sedang dalam fase "investasi besar, return belum kelihatan". Valuasi tidak bisa dinilai hanya dari P/E saat ini. Yang lebih relevan adalah kemampuan eksekusi, progress development, dan pergerakan harga emas/seng. Sampai ada bukti produksi yang lebih terdiversifikasi, menurut saya saham ini tetap high-risk, high-expectation.