LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Core PCE Melandai, Tapi GDP Price Index 6,2% Bikin Kaget

Data core PCE dan jobless claims AS terkendali, namun price index GDP Q2 melonjak 6,2%. Simak dampaknya ke Treasury yields dan pasar modal.


Rilis data ekonomi Amerika Serikat pagi ini memberikan gambaran yang cukup kontras: sebagian indikator menunjukkan inflasi yang mereda, namun ada satu angka yang benar-benar menonjol dan berpotensi mengganggu narasi soft landing. Bagi pelaku pasar modal, kombinasi data ini penting karena arah kebijakan The Fed dan pergerakan yield obligasi AS punya efek berantai ke IHSG serta arus modal asing.

Mulai dari sisi tenaga kerja. Jobless claims kembali menyentuh 197.000, di bawah level psikologis 200.000, dengan angka bulan sebelumnya direvisi tipis dari 187 menjadi 188 ribu. Continuing claims juga tetap di bawah 1,8 juta, tepatnya 1.782.000, dan sudah berada di level ini sejak pertengahan Juni. Angka setenang ini mengingatkan pada kondisi pasar tenaga kerja akhir dekade 60-an. Meski demikian, seberapa besar informasi yang bisa ditarik dari data ini masih dipertanyakan, mengingat banyak fraud yang sudah dibersihkan dari program bantuan selama setahun terakhir.

Dari sisi personal income dan spending untuk Juni, hasilnya sedikit mixed. Income naik 0,2%, lebih rendah dari ekspektasi 0,3%, dan menjadi salah satu angka terlemah setelah bulan-bulan sebelumnya yang sempat melonjak 0,7% — level terkuat dalam lima tahun. Spending naik 0,3%, juga sedikit di bawah ekspektasi, sementara real spending yang sudah memperhitungkan inflasi tepat di angka 0,4%. Konsumsi masih menopang ekonomi, tapi momentumnya mulai kehilangan tenaga.

Kabar baiknya datang dari inflasi. Headline PCE bulanan turun 0,1%, level paling ringan sejak era awal COVID pada April 2020. Secara tahunan, PCE tercatat 3,7%, terendah sejak Maret. Yang paling ditunggu, core PCE month over month hanya naik 0,1%, di bawah ekspektasi 0,2% dan menjadi salah satu angka terkecil dalam lebih dari dua tahun. Core PCE year over year sesuai ekspektasi di 3,3%. Ini sinyal bahwa tekanan inflasi inti perlahan mendingin — kabar yang biasanya disambut positif oleh pasar saham dan trading saham global.

Namun ada catatan penting. Data Juni ini sudah dianggap agak basi mengingat perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Harga minyak yang sempat menyentuh titik terendah sekitar US$68 kini berada sekitar US$15 lebih tinggi — bukan angka kecil, meski belum menembus level ekstrem di atas US$100.

Kejutan sesungguhnya justru datang dari data GDP kuartal kedua. Pertumbuhan ekonomi hanya 1,5%, di bawah ekspektasi 2% dan menjadi kuartal terlemah dalam periode terakhir. Tapi angka konsumsi melonjak 3,2%, jauh di atas ekspektasi 2,3%. Yang paling mencolok adalah GDP price index di 6,2%, sementara pasar hanya memperkirakan sekitar 4%. Untuk menemukan angka setinggi ini kita harus mundur ke kuartal kedua 2022 yang mencapai 9,3%. Core pricing index quarter over quarter tercatat 3,4%, sedikit lebih ringan dari ekspektasi.

Bagaimana pasar mencerna semua ini? Yield Treasury 10 tahun bergerak ke 4,67%, tepat di area technical pivot yang merupakan high yield close untuk siklus ini pada 19 Mei. Yield 30 tahun sudah di 5,2% dan yang 2 tahun di 4,25%. Fenomena paling menarik adalah curve steepening: spread twos-tens melebar dari 24 basis poin menjadi 42 basis poin hanya dalam satu bulan.

Untuk investasi dan riset saham, kombinasi core PCE yang melandai namun price index GDP yang panas ini menciptakan ketidakpastian soal arah suku bunga. Steepening kurva yield sering menjadi sinyal bahwa pasar mulai memperhitungkan risiko fiskal dan inflasi jangka panjang, sesuatu yang layak masuk dalam analisa saham dan strategi alokasi portofolio investor lokal maupun global.