Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, menciptakan dinamika baru bagi negara-negara eksportir minyak di kawasan Teluk (GCC). Dampak dari konflik ini tidak merata, melainkan terbagi secara asimetris berdasarkan jalur logistik dan eksposur geografis masing-masing negara terhadap titik kritis seperti Selat Hormuz.
Oman muncul sebagai pihak yang paling diuntungkan (the winner) dalam situasi ini. Dengan posisi geografis yang menghadap langsung ke Laut Arab dan Samudra Hindia, Oman terhindar dari hambatan logistik di Selat Hormuz. Hal ini memungkinkan Oman mempertahankan steady shipments sekaligus menikmati berkah dari lonjakan harga minyak mentah akibat geopolitical risk premium.
Sementara itu, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) berada di posisi break even. Kedua raksasa minyak ini memiliki infrastruktur pipa alternatif untuk mengalihkan sebagian ekspor mereka menghindari Selat Hormuz—seperti East-West Pipeline milik Arab Saudi menuju Laut Merah. Meskipun terjadi penurunan volume ekspor (volume losses), kenaikan harga minyak yang signifikan (price gains) mampu mengompensasi penurunan tersebut. Pendapatan ekspor minyak Arab Saudi untuk periode Januari-Mei diproyeksikan tetap tangguh di kisaran USD 95 miliar, pulih dari level USD 85 miliar pada tahun sebelumnya.
Sebaliknya, dampak terburuk dirasakan oleh Bahrain, Kuwait, dan Qatar. Ketiga negara ini sangat bergantung pada Selat Hormuz sebagai satu-satunya jalur keluar logistik minyak dan LNG mereka. Penutupan atau gangguan di selat tersebut secara praktis mengunci ekspor mereka (trapped exports). Bagi negara-negara ini, kenaikan harga minyak global tidak memberikan manfaat karena mereka tidak dapat mengirimkan komoditas mereka ke pasar internasional.
Bagi pelaku pasar global, fragmentasi dampak ini menegaskan pentingnya memperhitungkan risiko rute pengiriman (shipping route risks) dalam valuasi emiten energi. Perusahaan dengan diversifikasi jalur distribusi atau eksposur di luar Selat Hormuz memiliki ketahanan fundamental yang jauh lebih kuat di tengah volatilitas geopolitik.