Industri fixed broadband (FBB) di Indonesia terus mencatatkan pertumbuhan volume yang kuat seiring ekspansi jaringan dan tarif yang semakin kompetitif. Namun, dinamika ini membawa tekanan besar bagi para pemain lama (incumbents). Agresivitas operator penantang (challengers) memicu redistribusi market share serta deflasi ARPU (Average Revenue Per User) yang cukup signifikan.
Dominasi IndiHome milik PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mulai mengalami kompresi. Market share IndiHome menyusut sekitar 12% dalam tiga tahun terakhir, turun dari di atas 75% pada 2022 menjadi 63% pada 2025. Penurunan ini disertai dengan penurunan B2C ARPU sebesar ~18% sepanjang periode 2022-2025, yang berujung pada tren penurunan pendapatan sejak 4Q24. Di sisi lain, XL Axiata (EXCL) juga mencatat penurunan basis pelanggan pasca-konsolidasi First Media dan Link Net ke XLSatu, turun menjadi 0,94 juta pelanggan pada 1Q26 dibandingkan lebih dari 1 juta pada 3Q24.
Sebaliknya, pemain baru seperti MyRepublic, Biznet, dan ICONNET milik PLN mencatatkan pertumbuhan agresif dengan lonjakan pelanggan 2 hingga 6 kali lipat dalam tiga tahun terakhir. Upaya defensif dari incumbent seperti peluncuran EZNet oleh Telkomsel sebagai alternatif murah justru berisiko mempercepat deflasi ARPU dan menekan profitabilitas industri secara keseluruhan.
Untuk menyiasati tekanan ini, tren konsolidasi dan restrukturisasi aset diperkirakan akan terus berlanjut hingga 3-5 tahun ke depan demi membuka nilai (unlock value) dan menekan biaya rollout jaringan. Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT) menjadi contoh sukses setelah berhasil memonetisasi FiberCo miliknya pada valuasi ~7x EV/EBITDA, jauh di atas trading multiple sebesar ~4x.
Dampak kinerja segmen FBB ini bervariasi bagi masing-masing emiten. IndiHome saat ini berkontribusi sekitar 18% terhadap pendapatan konsolidasi TLKM dan mulai menjadi hambatan pertumbuhan (growth drag). Pada 1Q26, pertumbuhan top-line Telkomsel hanya tercatat ~1% yoy karena pertumbuhan bisnis wireless (+3% yoy) tergerus oleh penurunan pendapatan IndiHome (-5% yoy). Rencana TLKM untuk melakukan spin-off aset fiber juga dinilai menantang karena berisiko mendilusi keunggulan infrastruktur mereka.
Sebaliknya, eksposur risiko FBB pada ISAT dan EXCL tergolong minimal karena segmen ini hanya menyumbang 4-7% dari total pendapatan konsolidasi mereka. Posisi ini menempatkan ISAT dengan rating Overweight (OW), disusul Neutral (N) untuk TLKM, dan Underweight (UW) untuk EXCL.