Pasar minyak kembali memasang geopolitical risk premium setelah serangan rudal Iran terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania. WTI naik 2,76% ke US$84,37 per barel pada perdagangan empat jam terakhir, melanjutkan rebound sekitar 6% dari area support US$77,5–US$78.
Pergerakan ini merupakan bagian dari volatilitas ekstrem sejak konflik meluas. Serangan militer AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari, disusul gangguan di Selat Hormuz, sempat mendorong Brent menembus US$140 per barel. Lonjakan tersebut mencerminkan salah satu supply shock minyak terbesar, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi ekspor energi global.
Harapan gencatan senjata kemudian memicu sell-off agresif. Harga minyak kembali ke bawah level sebelum perang dan menghapus seluruh rally hanya dalam empat bulan. Pada pergerakan WTI yang lebih pendek, penghentian serangan AS dan Iran pada 26 Juli terjadi setelah harga membukukan kenaikan sekitar 36% dan mencapai area US$93,50. Dari puncak itu, WTI terkoreksi sekitar 16% menuju US$78 sebelum berbalik naik.
Secara teknikal, area US$77,5–US$78 kini menjadi support level utama. Reaksi beli yang muncul dari zona tersebut mengindikasikan seller belum mampu membentuk breakdown berkelanjutan. Resistance terdekat berada di sekitar US$85. Penutupan konsisten di atas level ini dapat membuka ruang menuju US$87,5–US$90, kemudian puncak sebelumnya di US$93,50.
Sebaliknya, kegagalan mempertahankan US$82 akan meningkatkan peluang retest ke US$80 dan US$77,5. Jika support tersebut jebol, struktur rebound melemah dan risiko koreksi menuju US$72,5 hingga titik terendah US$67,82 kembali terbuka.
Harga saat ini tidak lagi hanya mencerminkan keseimbangan supply-demand konvensional. Market mulai memperhitungkan kemungkinan eskalasi berikutnya, termasuk gangguan pelayaran dan ekspor dari kawasan Teluk. Kondisi ini berpotensi menjaga volatilitas minyak tetap tinggi, sekaligus menopang saham produsen energi. Namun, biaya bahan bakar yang bertahan tinggi dapat menekan margin emiten transportasi, logistik, petrokimia, dan industri dengan konsumsi energi besar serta memperumit jalur penurunan inflasi global.