LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Kinerja BBCA 2Q26: Tekanan NIM dan Tantangan Biaya Dana

Bank Central Asia (BBCA) membukukan laba bersih sebesar Rp14,9 triliun pada kuartal kedua 2026 (2Q26), tumbuh tipis 1% secara kuartalan (q/q) namun flat secara tahunan (y/y). Hasil ini berada 1% di atas estimasi internal namun 3% di bawah konsensus pasar. Pencapaian bottom-line ini utamanya ditopang oleh tingkat provisi yang lebih rendah (lower provisions) sebesar 36/20bps untuk gross/net.

Di sisi lain, Pre-Provision Operating Profit (PPoP) tercatat meleset 2% dari perkiraan akibat kenaikan biaya operasional musiman sebesar 5% q/q, meskipun pendapatan operasional secara umum sejalan dengan proyeksi. Cost to Income (C/I) ratio terkendali di level 31,8%, turun sekitar 35bps y/y.

Tekanan NIM dan Kenaikan Cost of Funds

Net Interest Income (NII) tumbuh 1% q/q, namun Net Interest Margin (NIM) mengalami kompresi sebesar 10bps q/q akibat kenaikan Cost of Funds (CoF). Mengetatnya likuiditas sistem perbankan memaksa BBCA menawarkan bunga sekitar 3,0% hingga 3,5% untuk incremental Time Deposits (TD), yang berpotensi terus menekan biaya dana ke depan.

Meskipun NIM pada paruh pertama 2026 (1H26) turun 50bps y/y ke level ~5.3%, manajemen mempertahankan guidance NIM setahun penuh di kisaran 5,4-5,6%. Pemulihan margin pada paruh kedua diharapkan datang dari yield yang lebih tinggi pada penyaluran kredit korporasi baru (+50-100bps), serta penempatan dana pada instrumen surat berharga dan SRBI.

Pertumbuhan Kredit Didominasi Sektor Korporasi

Total penyaluran kredit tumbuh 8% y/y, ditopang oleh segmen korporasi yang melonjak 13,6% y/y. Sebaliknya, segmen kredit konsumer khususnya kredit kendaraan bermotor (auto loans) mengalami kontraksi, mencerminkan daya beli sektor ritel yang masih lemah. Seiring dengan kondisi tersebut, manajemen menaikkan guidance credit cost menjadi 50-60bps dari sebelumnya 40-50bps.

Rekomendasi dan Prospek Saham

Kinerja keuangan yang range-bound ini diperkirakan memicu revisi turun minor pada konsensus laba bersih BBCA. Dalam jangka pendek, saham BBCA diproyeksikan bergerak sideways dengan kecenderungan melemah (short-term weakness).

Dengan harga saham saat ini yang ditransaksikan di atas target price Rp6.000, rekomendasi untuk BBCA dipertahankan pada rating Neutral. Di sektor perbankan Indonesia, preferensi investasi saat ini lebih diarahkan pada saham dengan arus kas bottom-of-the-pyramid yang kuat seperti BBRI dan BRIS berkat dukungan program pemerintah yang menjaga kualitas aset tetap resilient.