Vale Indonesia (INCO) membukukan kinerja keuangan yang solid pada kuartal kedua 2026 (2Q26) dengan laba bersih (NPAT) mencapai US$60,8 juta. Angka ini merepresentasikan kenaikan signifikan sebesar 39% QoQ dan melonjak 17,6x YoY. Pencapaian tersebut memenuhi sekitar 45% hingga 50% dari estimasi konsensus untuk FY26, yang dinilai masih in-line mengingat adanya proyeksi back-end-loaded ramp-up pada paruh kedua tahun ini (2H26).
Pertumbuhan performa pada kuartal ini ditopang oleh volume penjualan nickel ore yang melesat 139% QoQ (+37x YoY) serta kenaikan volume penjualan nickel-in-matte sebesar 1% QoQ. Peningkatan volume produksi nickel-in-matte sendiri tercatat sebesar 19% QoQ menjadi 16,2 kt menyusul selesainya pemeliharaan (rebuild) Furnace-3 pada bulan Juni. Dari sisi harga, Average Selling Price (ASP) untuk nickel-in-matte naik 4% QoQ ke level US$14.765 per ton, setara dengan sekitar 82% dari harga LME dengan lag satu bulan.
Aspek menarik terlihat pada efisiensi biaya operasional. Meskipun terdapat tekanan inflasi pada harga energi—dengan kenaikan harga HSFO sebesar 25%, solar 40%, dan batu bara 12% secara kuartalan—cash cost untuk nickel-in-matte justru berhasil ditekan turun 4% QoQ menjadi US$10.005 per ton. Hal ini mencerminkan operating leverage yang lebih baik dan optimalisasi fixed-cost absorption setelah operasional tanur kembali normal. Hasilnya, cash margin INCO tumbuh impresif sebesar 24% QoQ.
Di segmen nickel ore, volume penjualan terus menunjukkan pemulihan secara sekuensial meski masih relatif moderat dibandingkan target RKAB 2026 sebesar 8,1 juta wmt (terdiri dari 6,4 juta wmt saprolit dan 1,7 juta wmt limonit). Proyek Bahodopi mencatatkan penjualan bijih sebesar 1,07 juta wmt pada 2Q26, sementara Pomalaa membukukan kenaikan signifikan menjadi 1,26 juta wmt, membawa total penjualan bijih 1H26 ke kisaran 3,3 juta wmt.
Kendala logistik di Bahodopi terkait infrastruktur pelabuhan serta hambatan akses jalan di Pomalaa dinilai sebagai temporary execution bottlenecks dan bukan masalah struktural. Dengan normalisasi produksi nickel-in-matte dan potensi tambahan alokasi RKAB pasca revisi Juli, prospek pertumbuhan jangka menengah INCO tetap terjaga. Rekomendasi beli (Buy) dipertahankan dengan target price Rp9.600 per saham.