Ada dua cerita yang berjalan bersamaan di sistem perbankan bulan Juni 2026, dan keduanya menarik untuk kredit yang tumbuh kencang di satu sisi, likuiditas yang makin ketat di sisi lain. Kombinasi ini yang bikin analisa sektor bank jadi tidak sesederhana "kredit naik berarti bagus".
Mulai dari sisi yang bagus dulu. Loan growth Juni akselerasi ke 12,1% yoy, naik dari 10,8% di Mei. Motornya jelas: investment loan tumbuh 22,5% yoy dan working capital loan 9,6% yoy, angka tertinggi sejak Agustus 2024. Ini pertumbuhan corporate-driven, bukan konsumsi. Kredit ke SOE bahkan melonjak ke 30% yoy dari sebelumnya 24%. Sementara private sector cuma naik tipis ke 10% yoy.
Masalahnya, sisi konsumen justru loyo. Consumer loan cuma tumbuh 5,7% yoy, paling lambat sejak Februari 2022. Auto loan malah terus kontraksi -9,9% yoy, KPR melambat ke 4,4% yoy, dan yang paling mengkhawatirkan MSME loan cuma naik 1,0% yoy. Artinya, pertumbuhan kredit yang terlihat gagah ini bertumpu pada segmen korporasi dan BUMN — bukan pada mesin ekonomi ritel yang biasanya jadi indikator daya beli riil. Buat saya ini red flag halus soal kondisi bawah.
Sekarang bagian yang bikin gelisah: likuiditas. LDR sistem naik lagi 2 ppt jadi 92%, level tertinggi sejak Juli 2020. Deposit cuma tumbuh 8,1% yoy sementara kredit lari 12,1% — gap ini yang menekan likuiditas. CASA ratio turun ke 65% karena demand deposit anjlok -4% mom, sementara nasabah pindah ke time deposit yang naik 3,6% mom.
Efek dominonya ke cost of fund. Setelah BI menaikkan policy rate kumulatif 50 bps di Juni, TD rate naik 30–90 bps mom, tapi lending rate cuma naik 10 bps. Deposit repricing jauh lebih cepat dari loan repricing. Buat margin bank, ini tekanan langsung ke NIM. Rate deposito 12 bulan bahkan melompat dari 4,50% ke 5,44% dalam sebulan.
IndoNIA masih 6,2% per 22 Juli — memang turun dari puncak 6,6% di pertengahan Juni, tapi masih 40 bps di atas BI rate. Pemerintah sudah menyuntik SAL ke sistem di akhir Juni, tapi normalisasi belum penuh. SRBI outstanding sudah 11,4% dari total deposit dengan yield lelang tetap tinggi di 7,6%. Sinyal menarik: BI skip lelang SRBI Rabu minggu ini, memutus enam minggu beruntun lelang dua kali seminggu. Bisa jadi awal pelonggaran, bisa juga cuma jeda.
Untuk pilihan saham, dinamika ini memfilter mana yang tahan tekanan margin. Beberapa metrik yang layak diperhatikan:
- BBRI — dividend yield paling seksi di 11,1% FY26F, P/E 7,6x, dengan EPS growth reakselerasi ke 11,8% di FY27F.
- BBCA — franchise CASA terkuat jadi bantalan di era cost of fund naik, ROE stabil 20,5% meski valuasi premium P/E 13,3x.
- BRIS — EPS growth dua digit 10,2% FY26F, tapi dividend yield tipis 1,5%.
Intinya, di lingkungan likuiditas ketat begini, bank dengan basis CASA solid dan disiplin repricing yang akan menang. Yang bergantung pada wholesale funding akan merasakan tekanan NIM lebih dulu.