Kinerja keuangan BTPN Syariah (BTPS) pada kuartal kedua tahun ini mulai menunjukkan tanda-tanda turnaround yang cukup solid. Net profit (NPAT) di 2Q26 tercatat tumbuh 5,3% qoq dan 0,9% yoy menjadi Rp336 miliar. Hasil ini membuat kumulatif NPAT 1H26 mencapai Rp655 miliar, atau merefleksikan sekitar 48% dari estimasi setahun penuh. Pencapaian ini tergolong in line di tengah periode musiman yang biasanya lambat setelah momen Lebaran.
Poin paling menarik dari kinerja kali ini adalah perbaikan kualitas aset yang konsisten. Cost of Credit (CoC) BTPS turun 10bp secara kuartalan menjadi 5,0% di 2Q26. Secara kumulatif, CoC 1H26 berada di level 5,1%—titik terendah sejak masa pandemi Covid-19. Tren positif ini didukung oleh indikator kualitas pembiayaan awal (early loan quality indicators) yang membaik. Indikator flow to X-day (tunggakan 1-30 hari) stabil di level 0,5% YTD, jauh lebih rendah dibanding Juni tahun lalu yang sempat menyentuh 0,8%.
Selain itu, tingkat pembayaran tepat waktu (on-time payments) naik menjadi 95,2% per Juni 2026, sementara angka monthly write-offs berhasil ditekan ke kisaran Rp33-39 miliar pada periode Mei-Juni. Vintage analysis untuk penyaluran pembiayaan baru sepanjang tahun ini juga menunjukkan profil risiko yang jauh lebih sehat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Dari sisi ekspansi, loan growth tumbuh 8,7% yoy menjadi Rp11 triliun. Segmen group lending, yang mendominasi portfolio pembiayaan sebesar 86%, memang cenderung flat secara kuartalan karena faktor musiman. Namun, momentum permintaan pembiayaan diperkirakan akan kembali terakselerasi pada paruh kedua tahun ini. Sementara itu, kelebihan likuiditas saat ini dikelola melalui penempatan jangka pendek pada lembaga keuangan non-bank (NBFI).
Sebagai katalis tambahan bagi pergerakan harga saham, manajemen tengah memproses persetujuan regulator untuk melakukan share buyback dengan periode eksekusi selama 12 bulan yang ditargetkan mendapat restu pada 3Q26.
Meski prospek pemulihan semakin nyata, target harga (TP) saham BTPS disesuaikan menjadi Rp1.300 dari sebelumnya Rp1.500. Langkah ini diambil untuk merefleksikan kenaikan risk-free rate dan risk premium seiring dengan pergerakan yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun. Kendati demikian, dengan harga saham saat ini yang berada di kisaran Rp1.005, potensi upside masih sangat menarik, didukung oleh proyeksi ROE yang berangsur pulih ke level 13-14%.