LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Mengapa AS Tidak Mampu Menanggung Suku Bunga Tinggi Lebih Lama

Kebijakan moneter ketat yang dipertahankan oleh The Federal Reserve kini berhadapan langsung dengan realitas fiskal Amerika Serikat yang semakin menantang. Risiko penundaan penurunan suku bunga tidak hanya berdampak pada sektor riil, tetapi juga secara langsung memperberat beban anggaran pemerintah federal melalui apa yang dikenal sebagai rollover risk.

Sekitar $8 triliun dari total US Treasuries yang dipegang oleh sektor privat akan jatuh tempo dalam kurun waktu 12 bulan ke depan. Utang-utang lama ini harus segera di-refinance di tengah era suku bunga tinggi. Rata-rata kupon (average coupon) dari surat utang yang jatuh tempo tersebut berada di kisaran 3.3%. Sementara itu, yield untuk tenor pendek seperti 2-year Treasury saat ini telah bertengger di sekitar 4.3%.

Melakukan refinancing atas utang sebesar $8 triliun dengan selisih yield sekitar 100 basis poin ini akan menambah beban bunga tahunan (annual interest costs) pemerintah AS sebesar kurang lebih $80 miliar. Beban tambahan ini bahkan belum memperhitungkan kebutuhan pembiayaan baru untuk menutup defisit anggaran tahunan (annual deficit) AS yang saat ini berjalan di kisaran $2 triliun.

Situasi makroekonomi saat ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan era Paul Volcker pada awal tahun 1980-an. Pada masa itu, inflasi tinggi yang terjadi sebelumnya telah mendepresiasi nilai riil utang pemerintah. Akibatnya, rasio utang terhadap PDB (debt-to-GDP ratio) AS menyusut drastis dari 120% pasca-Perang Dunia II menjadi hanya sekitar 30%. Rasio utang yang rendah ini memberikan ruang fiskal yang sangat longgar bagi Volcker untuk mengerek suku bunga secara agresif demi menjinakkan inflasi.

Hari ini, posisi leverage pemerintah AS berada di arah sebaliknya, di mana rasio debt-to-GDP kembali mendekati level 120%. Urutan kebijakan (sequence) menjadi sangat krusial dalam siklus ekonomi kali ini. Menurunkan nilai riil utang terlebih dahulu melalui inflasi sebelum menaikkan suku bunga adalah urutan yang logis secara historis. Sebaliknya, mempertahankan suku bunga tinggi di saat tumpukan utang berada di level puncak justru berisiko membuat beban utang negara menjadi tidak berkelanjutan (unsustainable).