OASA sedang membangun cerita pertumbuhan yang jauh lebih besar daripada skala bisnisnya saat ini. Setelah proyek Tangerang Selatan dan Jakarta Barat, perseroan menambah proyek waste-to-energy (WtE) Lampung. Ekspansi ini menempatkan OASA sebagai salah satu kendaraan investasi untuk program pembangunan 33 fasilitas WtE hingga 2029, dengan total investasi nasional sekitar Rp90 triliun.
Daya tarik sektor ini terletak pada perbaikan risk-return proyek. Perpres No. 109/2025 menyediakan PPA take-and-pay dengan PLN selama 30 tahun, lahan dari pemerintah, serta jaminan pasokan sampah minimum 1.000 ton per hari. Struktur tersebut memberi visibility terhadap revenue dan mengurangi risiko volume. Meski demikian, kontrak jangka panjang tidak otomatis menghapus execution risk, terutama karena proyek tetap membutuhkan perizinan, konstruksi, interkoneksi jaringan, dan pendanaan dalam jumlah besar.
Pipeline OASA memang material. Proyek Tangerang Selatan memiliki capex sekitar US$140 juta, kapasitas pengolahan 1.100 ton per hari, dan output listrik 19,6 MW. OASA memegang kepemilikan efektif 42,6%, sementara operasi awal ditargetkan pada 2029. Proyek Lampung menawarkan kapasitas serupa, tetapi kepemilikan efektif OASA lebih rendah di 22,05%.
Skala terbesar berada di Jakarta Barat: kapasitas 2.000 ton sampah per hari, output 35,5 MW, dan capex sekitar US$398 juta. OASA berpotensi menambah kepemilikan dalam joint venture proyek tersebut apabila mitranya menghadapi keterbatasan balance sheet. Ini dapat memperbesar economic interest OASA, tetapi juga meningkatkan kebutuhan modal dan exposure terhadap risiko konstruksi.
Total investasi ketiga proyek diperkirakan mencapai Rp12,2 triliun, jauh melampaui market cap OASA sekitar Rp2,23 triliun. Pendanaan melalui project financing dan aksi korporasi menjadi titik krusial. Leverage pada level proyek dapat efisien jika cash flow kontraktual cukup bankable, sedangkan penerbitan saham baru membawa dilution risk bagi investor lama.
Fundamental saat ini belum menopang valuasi secara konvensional. Turnover 2025 turun menjadi Rp33 miliar dari Rp67 miliar, EBITDA negatif Rp37 miliar, dan net loss Rp43 miliar. Karena laba dan EBITDA masih negatif, trailing P/E maupun EV/EBITDA tidak memberikan anchor valuasi yang berguna. Saham ini pada dasarnya diperdagangkan berdasarkan probabilitas keberhasilan proyek, bukan earnings momentum saat ini.
Dari sisi teknikal, harga Rp352 masih berada di bawah downtrend line yang terbentuk sejak puncak Rp590. Area Rp382 dan Rp432 menjadi resistance, sedangkan support berada di Rp300 dan Rp284. Indikator momentum mingguan masih relatif konstruktif, tetapi kegagalan breakout membuka ruang koreksi. Katalis terpenting bukan sekadar kemenangan tender berikutnya, melainkan financial close, dimulainya konstruksi pada 2027, dan kepastian proyek dapat beroperasi sesuai jadwal tanpa cost overrun besar.