LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Prospek Saham AKRA: Lonjakan Laba dan Ekspansi LNG

AKR Corporindo (AKRA) menunjukkan performa finansial yang solid sepanjang paruh pertama tahun ini. Laba bersih (NPAT) di 1H26 tercatat mencapai Rp1,43 triliun, tumbuh 21% secara tahunan (yoy). Pencapaian ini didorong oleh kuatnya permintaan di segmen trading and distribution (T&D) untuk produk petroleum dan kimia dasar, serta realisasi penjualan lahan industri di JIIPE seluas 58 hektar.

Meskipun secara top-line pendapatan melonjak hingga 60% yoy menjadi Rp17,9 triliun di 2Q26, perseroan menghadapi sedikit margin pressure. Margin laba kotor (GPM) menyusut menjadi 6,6% dibandingkan 8,5% pada kuartal sebelumnya. Kontraksi margin ini sebagian besar disebabkan oleh peningkatan kontribusi bisnis T&D yang secara historis memiliki margin lebih rendah, ditambah dengan kerugian sementara pada usaha patungan ritel BP-AKR. AKRA memilih untuk tidak menaikkan harga jual eceran meskipun biaya pengadaan meningkat, dan belum membukukan potensi kompensasi harga bahan bakar ritel sekitar Rp250 miliar yang saat ini masih didiskusikan dengan pemerintah.

Menariknya, manajemen justru merevisi naik target pertumbuhan laba bersih tahunan menjadi 15-20% yoy, dari panduan sebelumnya yang hanya sebesar 7-10% yoy. Optimisme ini ditopang oleh ekspektasi penjualan lahan industri yang lebih tinggi, dengan target baru mencapai 90-100 hektar dibandingkan asumsi awal sebesar 60 hektar. Selain itu, peningkatan konsumsi utilitas dari penyewa kawasan industri, khususnya seiring dengan peningkatan kapasitas operasional smelter Freeport di paruh kedua, diproyeksikan akan mendongkrak pendapatan segmen utilitas menjadi Rp1 triliun tahun ini, dan berpotensi melonjak hingga Rp2 triliun pada tahun depan.

Untuk jangka panjang, proyek patungan baru dengan BW LNG untuk membangun unit penyimpanan dan regasifikasi terapung (FSRU) senilai USD 450-500 juta akan menjadi motor pertumbuhan baru. Dengan posisi kas internal yang kuat mencapai Rp8,9 triliun, ekspansi ini diperkirakan tidak akan mengganggu kebijakan dividen perseroan. Hal ini terbukti dari komitmen pembagian dividen interim sebesar Rp50 per saham yang setara dengan 69% payout ratio dari laba bersih paruh pertama.

Dengan valuasi P/E ratio sekitar 10x dan potensi dividend yield yang konsisten di kisaran 7-8%, profil risk-reward saham AKRA masih cukup atraktif. Katalis positif berikutnya akan sangat bergantung pada realisasi volume BBM industri dan finalisasi kompensasi ritel dari pemerintah.