Sektor tembakau Indonesia mulai menunjukkan sinyal pemulihan volume yang nyata pada kuartal kedua tahun ini. Volume penjualan industri naik menjadi 67 miliar batang, tumbuh 6% qoq dan 3% yoy. Secara kumulatif, volume industri selama paruh pertama tahun ini mencapai 131 miliar batang, naik 4% yoy. Faktor pendorong utamanya adalah langkah agresif pemerintah dalam melakukan crackdown terhadap peredaran rokok ilegal, yang secara tidak langsung mengalihkan konsumsi kembali ke jalur resmi.
HM Sampoerna (HMSP) diuntungkan oleh tren ini. Perusahaan mencatatkan shipment volume sebesar 20 miliar batang pada 2Q26, tumbuh 9% qoq. Pemulihan volume ini dikombinasikan dengan pricing power yang solid. Berdasarkan channel checks retail terbaru, HMSP kembali menaikkan average selling price (ASP) produk flagship mereka, A Mild, sebesar 1% mom. Secara YTD, kenaikan ASP untuk portofolio produk utama HMSP telah mencapai 2% hingga 4%. Langkah taktis ini menandai penyesuaian harga kelima kalinya sepanjang tahun berjalan, sebuah konsistensi yang tidak dimiliki kompetitornya. Menariknya, pemain tier-2 seperti WIIM juga mulai mengikuti langkah serupa dengan menaikkan harga jual berkisar 3%.
Dengan penyesuaian ASP yang konsisten dan volume yang mulai pulih, estimasi net profit HMSP pada 2Q26 diproyeksikan mencapai Rp2,3 triliun, tumbuh 14% qoq. Pertumbuhan kinerja ini juga didukung oleh proyeksi absennya kenaikan tarif cukai (excise tariff) hingga FY27F, memberikan ruang napas yang cukup lebar bagi operating margin perusahaan.
Dari perspektif investasi, HMSP menawarkan profil risk-reward yang sangat menarik. Perusahaan diproyeksikan mencatat EPS CAGR sebesar 10% untuk periode FY26-28F. Ditambah dengan rekam jejak dividend payout ratio yang konsisten di angka 100% sejak 2013, HMSP berpotensi menghasilkan dividend yield sebesar 13% pada FY27F.
Valuasi saham HMSP saat ini berada pada level atraktif di 8x FY27F P/E, mencerminkan posisi -2 standar deviasi dari rata-rata historis 5 tahunnya. Target harga wajar berada di level Rp1.060 per lembar saham. Meski begitu, investor tetap perlu mencermati downside risk seperti pelemahan daya beli yang berisiko menekan volume penjualan, serta potensi kenaikan opex untuk menjaga pangsa pasar.