LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Saham Batu Bara: Mispricing & Momentum Beli Pasca 2Q26

Sektor batu bara sedang berada di persimpangan yang menarik. Harga sempat melejit ditopang kekhawatiran geopolitik dan ketatnya pasokan spot Indonesia, tetapi premium perang mulai memudar. Pertanyaan besarnya: apakah ini akhir dari reli, atau justru pintu masuk yang lebih baik bagi investor yang sabar? Rikopedia menilai valuasi sektor ini masih salah harga (mispricing), namun momentum terbaik kemungkinan baru akan muncul setelah laporan keuangan kuartal kedua 2026.

Dinamika Supply-Demand: Ketat, Tapi Bukan Kejutan Besar

Data 5 bulan pertama 2026 menunjukkan dampak disrupsi geopolitik lebih ringan dari skenario moderat. Impor China turun 3% yoy dan India anjlok 18% yoy. Namun permintaan tetap solid di Asia Utara: Jepang naik 4%, Taiwan 3%, dan Korea Selatan melonjak 19,5% yoy — sinyal restocking demi keamanan energi, terutama di pasar dengan eksposur LNG tinggi.

Faktor pengetat utama justru datang dari sisi pasokan. Produksi dan ekspor Indonesia turun sekitar 8% yoy akibat pembatasan RKAB, sementara ekspor Australia naik ~5%. Inilah yang menopang harga meski pemulihan permintaan belum merata. ICI3 sempat menyentuh US$84/ton dan ICI4 US$64,6/ton — jauh di atas level 2025 — sebelum melandai dari puncaknya di Juni.

Katalis dan Red Flag yang Wajib Diwaspadai

  • Revisi RKAB (Katalis Utama): Base case kami mengasumsikan revisi naik 10-12%, dengan persetujuan diperkirakan rampung dalam 1-1,5 bulan. Ini akan memulihkan produksi, namun ironisnya bisa membatasi kenaikan harga jika berujung pada tambahan ekspor.
  • Risiko DMO (Red Flag): Penambang diminta mempercepat pengiriman DMO akibat rendahnya inventori PLN. Bauran penjualan DMO yang lebih tinggi akan mendilusi keuntungan dari harga ekspor yang menguat — negatif untuk ASP di 2Q26 dan berpotensi 3Q26.
  • Isu DSI (Sebagian Mereda): Risiko DSI dinilai mulai mereda karena kemungkinan besar berperan sebagai perantara, bukan trader utama. Namun ketidakpastian kontrak 2027 masih membayangi persepsi pasar.

Preview Kinerja 2Q26: Volume Naik, Tapi EBITDA Tertekan

Pendapatan 2Q26 diperkirakan membaik 25-34% qoq, ditopang kenaikan volume ~10% dan harga ekspor 19-20% qoq. Sayangnya, ini kemungkinan tergerus oleh lonjakan biaya bahan bakar — harga HSD domestik naik 35% qoq — yang mengerek cash cost hingga 29%. Alhasil, EBITDA AADI dan ITMG kemungkinan hanya flat, bahkan berisiko meleset dari konsensus.

Kesimpulan: Sabar untuk Entry yang Lebih Baik

Kami mempertahankan pandangan Overweight untuk sektor batu bara, namun menurunkan pandangan taktis jangka pendek menjadi Neutral. Sektor ini belum pulih sejak isu DSI muncul dan diperdagangkan pada PE ~6,1x, mencerminkan ketidakpastian kebijakan yang masih diperhitungkan pasar. AADI (TP Rp12.400) dan ITMG (TP Rp34.000) tetap menjadi pilihan utama berkat dukungan dividen dan buffer valuasi. Titik masuk yang lebih menarik justru berpotensi lahir dari kekecewaan pasar atas hasil 2Q26 — selama revisi RKAB, de-risking DSI, dan pemulihan volume 2H26 tetap on track. Simak terus info dan analisis di blog Rikopedia untuk perkembangan sektor komoditas dan teknologi pasar modal terkini.