LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Siklus AI Meluas: Strategi Investasi Pro-Risiko 2026

Dunia investasi memasuki babak baru yang menarik. Jika sebelumnya kecerdasan buatan (AI) hanya dianggap sebagai tema teknologi semata, kini kita menyaksikan transformasi besar: AI tak lagi sekadar cerita satu sektor, melainkan telah menjadi motor penggerak seluruh siklus ekonomi. Di Rikopedia, kami mencermati bagaimana ledakan belanja modal (capex) untuk infrastruktur AI kini merambat ke berbagai sendi ekonomi riil, mengubah lanskap alokasi aset global secara fundamental.

AI Kini Mendefinisikan Siklus Ekonomi

Pusat gravitasi tetap berada pada belanja para hyperscaler (raksasa penyedia cloud), namun dampaknya kini menyebar luas. Permintaan modal yang masif mengalir deras ke sektor kelistrikan, utilitas, industri, pusat data, infrastruktur jaringan listrik, semikonduktor, hingga komoditas tembaga.

Menariknya, realisasi belanja modal para raksasa teknologi terus melampaui estimasi. Angkanya melonjak drastis dari kisaran USD 143 miliar menjadi diproyeksikan menembus USD 734 miliar. Pertanyaan utamanya kini bukan lagi apakah AI penting, melainkan apakah siklus investasi ini bisa meluas cukup cepat untuk membenarkan besarnya modal yang digelontorkan.

Prospek Saham: Tetap Agresif dengan Kewaspadaan

Kami mempertahankan pandangan overweight (kelebihan bobot) pada saham global, khususnya saham kapitalisasi besar. Keyakinan ini bersandar pada empat pilar utama:

  • Siklus belanja AI yang terus meluas ke sektor riil.
  • Pertumbuhan laba yang tetap solid dan realistis.
  • Pemulihan manufaktur global dari kelesuan bertahun-tahun.
  • Dukungan teknis berupa pembelian kembali saham (buyback) di level historis tertinggi.

Meski demikian, risiko koreksi jangka pendek nyata adanya. Momentum saham AI sudah sangat panjang, konsentrasi pasar tinggi, dan gelombang penawaran saham perdana (IPO) raksasa berpotensi menekan pasar. Namun, koreksi moderat justru kami pandang sebagai peluang beli, bukan alasan panik.

Secara regional, kami mengunggulkan Jepang dan pasar berkembang seperti China, Korea, dan Taiwan. Sebaliknya, Eropa kami turunkan bobotnya akibat pertumbuhan lemah dan kerentanan energi.

Obligasi: Kisah Suku Bunga Riil

Kenaikan imbal hasil obligasi tahun ini didorong oleh naiknya suku bunga riil, bukan ekspektasi inflasi. Di level sekitar 2,25%, angka ini masih di bawah zona bahaya (3–4%) yang secara historis meruntuhkan aset berisiko. Artinya, pasar kredit tetap terjaga selama pertumbuhan solid. Kami menaikkan pandangan pada obligasi imbal hasil tinggi berkualitas dan efek beragun aset (ABS/CMBS).

Pentingnya Diversifikasi yang Bekerja Lebih Keras

Korelasi saham dan obligasi kini kurang bisa diandalkan sebagai pelindung portofolio. Karena itu, kami menaikkan bobot strategi lindung nilai (hedged strategies), terutama pendekatan makro dan absolute-return. Komoditas tetap menarik, dengan tembaga sebagai bintang utama berkat permintaan infrastruktur AI.