Lonjakan nilai IPO global memicu kekhawatiran klasik: apakah ini sinyal market top atau sekadar normalisasi siklus? Secara nominal, nilai IPO diproyeksikan menembus USD 200 miliar tahun ini, melampaui rekor USD 120 miliar pada tahun 2021. Namun, jika dibedah lebih dalam, dinamika kali ini sangat berbeda dengan era dot-com bubble maupun euforia pasca-pandemi.
Dari sisi deal count, aktivitas pasar perdana sebenarnya masih tergolong moderat. Dengan estimasi sekitar 100 perusahaan melantai tahun ini—setara dengan median 25 tahun terakhir—pasar tidak sedang kebanjiran emiten baru secara kuantitas. Lonjakan nilai ini lebih didorong oleh segelintir transaksi berskala mega (mega-deals), terutama di sektor kecerdasan buatan (AI) yang sangat padat modal (capex intensive).
Secara valuation, posisinya juga belum masuk kategori mengkhawatirkan. Median enterprise value-to-sales (EV/sales) dari IPO terbaru berada di kisaran 5x, sedikit di atas median historis 30 tahun (4x), namun jauh di bawah level 9x pada tahun 1999 atau 7x pada tahun 2021. Menariknya, kualitas emiten baru jauh lebih sehat: sekitar 43% perusahaan mencatatkan net income positif di kuartal pertama mereka setelah melantai, jauh lebih tinggi dibanding era 1999 (28%) dan 2021 (24%).
Kekhawatiran mengenai oversupply saham baru yang dapat menekan pasar juga dinilai terlalu berlebihan. Estimasi total equity issuance (termasuk IPO, follow-on, dan convertibles) hanya menyerap sekitar 1% dari total kapitalisasi pasar Russell 3000. Likuiditas pasar ditopang oleh derasnya aksi korporasi lain. Dengan proyeksi gross buybacks korporasi yang diperkirakan mencapai USD 1,3 triliun tahun ini, pasokan saham baru dari IPO kemungkinan besar akan dengan mudah terserap oleh pasar.
Kendati demikian, investor tetap harus waspada terhadap risiko di masa mendatang saat masa lockup saham IPO tahun ini berakhir, yang berpotensi menambah suplai saham beredar secara mendadak. Selain itu, secara historis, membeli saham IPO langsung saat first day trading jarang memberikan imbal hasil optimal. Sebagian besar saham IPO cenderung underperform dalam tiga tahun pertama. Saham IPO sering kali membutuhkan waktu untuk membuktikan konsistensi kinerjanya sebelum layak dikoleksi jangka panjang.