Goldman Sachs kembali menyorot risiko geopolitik di pasar minyak lewat skenario baru: bagaimana jika Selat Hormuz tetap terganggu hingga akhir 2027? Dalam kondisi ekstrem ini, GS memproyeksikan Brent crude bisa spike ke atas $120/bbl pada Q4 2026, sebelum akhirnya melandai ke rata-rata sekitar $100/bbl sepanjang 2027.
Angka ini bukan base case. Skenario upside tersebut berpijak pada asumsi Gulf output baru pulih di Desember 2027 — artinya supply disruption berjalan berkepanjangan, bukan sekadar gangguan sesaat yang cepat ternormalisasi. Selat Hormuz sendiri adalah chokepoint paling krusial di rantai suplai energi global, dengan sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melewati jalur sempit ini setiap hari. Gangguan struktural di titik ini punya efek langsung ke premium risiko yang di-price pasar.
Upside vs Base Case: Selisih yang Lebar
Yang menarik justru kontrasnya. Base case Goldman tetap bertahan di kisaran $80/bbl, dan kurva forwards saat ini bergerak menurun secara gradual dari level ~$85 menuju low $70an hingga 2028. Dengan kata lain, pasar saat ini praktis mengabaikan skenario disrupsi fisik yang berkepanjangan — probabilitas yang di-assign masih rendah.
Gap antara jalur merah (upside) dan jalur biru (base case) mencapai puluhan dolar per barel pada puncaknya di 2026-2027. Ini yang membuat GS menyimpulkan bahwa oil price risks are tilted to the upside. Ketika forward curve dan base case nyaris berhimpit, sementara skenario tail-risk menawarkan payoff besar, struktur risk/reward menjadi asimetris — downside terbatas, upside terbuka lebar.
Skenario Downside Tidak Diabaikan
Di sisi lain spektrum, GS juga memodelkan jalur downside (higher production, lower demand) yang bisa menyeret Brent ke bawah $60/bbl menjelang 2028. Kombinasi produksi berlebih — termasuk potensi normalisasi kuota OPEC+ dan pertumbuhan supply non-OPEC — dengan pelemahan demand global menjadi driver utamanya. Skenario ini menegaskan bahwa fundamental struktural tetap bearish tanpa katalis geopolitik.
Implikasi untuk Investor
Bagi pemodal, konfigurasi ini punya beberapa pesan. Pertama, current pricing cenderung complacent terhadap risiko Timur Tengah — yang berarti eksposur hedging via opsi call minyak relatif murah dibanding potensi payoff. Kedua, saham energi dan sektor komoditas terkait masih memegang optionality terhadap eskalasi geopolitik yang belum sepenuhnya tercermin di harga.
Yang jelas, selisih lebar antara base case dan skenario upside menunjukkan pasar belum benar-benar mempersiapkan diri untuk gangguan supply berkepanjangan. Selama ketegangan di kawasan Teluk belum reda, distribusi risiko harga minyak tetap condong ke atas — dan itulah pesan inti dari analisis Goldman kali ini.