UBS mengubah stance-nya terhadap BFI Finance Indonesia (BFIN) dari Sell menjadi Neutral, seiring price target yang dinaikkan ke Rp835 dari sebelumnya Rp740. Katalis utama upgrade ini adalah net profit Q2 2026 sebesar Rp475 miliar, naik 33% YoY, yang membawa laba bersih H1 2026 ke Rp829 miliar (61% YoY). Angka ini mencapai 56% dari estimasi UBS/konsensus full year—sebuah strong beat yang didorong hampir seluruhnya oleh perbaikan credit cost.
Yang menarik, kualitas beat ini cukup sehat. Provisioning turun 34% YoY berkat perbaikan underwriting strategy dan normalisasi collection pasca-Lebaran. Repossession gains/losses membaik, mendorong credit cost efektif ke 190bps (dari 270bps QoQ dan 530bps di 2026E). PPOP juga tumbuh 4% YoY, sedikit di atas ekspektasi UBS, jadi ini bukan sekadar cerita pelepasan provisi tapi ada perbaikan operasional di level pre-provision.
NPL Masih Elevated, Tapi Formation Melambat
Revenue Q2 naik 13% YoY dan 40% QoQ, meski secara H1 relatif flattish. Sisi yang belum sepenuhnya bersih adalah asset quality: NPL masih di level 4.3%, tergolong tinggi. Kabar baiknya, NPL formation melambat 70bps QoQ, yang memungkinkan BFI menurunkan NPL coverage sedikit sebesar 7ppt QoQ ke 263%. Coverage di angka ini masih memberikan cushion yang tebal.
Guidance Direvisi Naik
Manajemen kini memandu credit cost akan turun ke bawah 4% (dari guidance sebelumnya 4.1%), dan tidak mengantisipasi further shock di H2 2026. Ada pula potensi recovery dari written-off losses di portofolio P2P lending anak usaha. Target new bookings dan managed receivables growth dipatok 5% untuk full year, dengan cost income ratio dijaga di 43%. BFI juga berencana meluncurkan lini bisnis baru di Q3 2026.
UBS menaikkan earnings forecast 2026/27/28E masing-masing 22%/19%/13%. Net earnings versi UBS diperkirakan tumbuh dari Rp1,656 miliar (2026E) ke Rp2,009 miliar (2028E), dengan ROE membaik dari 15.1% ke 16.1%.
Valuasi Wajar di 1.0x PB
Price target Rp835 diturunkan dari Gordon growth model dengan sustainable ROE 15.2%, equity risk premium 5.75%, dan risk-free rate 7.0%. Target ini mengimplikasikan 1.1x 12M forward P/BV—broadly in line dengan perbaikan sustainable ROE. Di harga Rp780, saham diperdagangkan pada 1.0x P/BV dengan dividend yield sekitar 9.2% net, valuasi yang reasonable untuk recovery loan growth 12 bulan ke depan.
Intinya: perbaikan credit cost sudah nyata dan terkonfirmasi di guidance, tapi upside dari sini bergantung pada seberapa cepat loan growth pulih dan apakah NPL formation bisa terus mereda dari level 4.3% yang masih di atas historis.