Ada satu ironi besar di balik pasar obligasi dan kebijakan Fed selama lima tahun terakhir: hampir semua orang tahu ke mana inflasi seharusnya pergi, tapi tidak ada yang benar-benar bisa memprediksi kapan sampai di sana.
Survei terhadap sekitar 70 ekonom Wall Street secara konsisten menghasilkan satu proyeksi yang sama—core PCE inflation akan kembali ke target Fed di 2.0% dalam 6 kuartal ke depan. Proyeksi ini muncul berulang, dari berbagai titik waktu, dengan kurva yang selalu melengkung turun menuju garis 2% seperti gravitasi. Masalahnya: sudah 64 bulan berturut-turut, proyeksi itu meleset.
Data aktual US Core PCE year-over-year punya ceritanya sendiri. Sepanjang 2010–2018, angkanya memang jinak di kisaran 1.0%–2.0%, nyaris sesuai ekspektasi. Lalu pandemi memukul, dan inflasi sempat jatuh mendekati 1.0% di 2020. Tapi yang terjadi setelahnya tidak ada dalam model konsensus manapun—lonjakan tajam melampaui 5.5% di akhir 2021 hingga awal 2022, level tertinggi dalam beberapa dekade.
Sejak puncak itu, inflasi memang melandai. Core PCE turun ke kisaran 2.5%–3.0% di 2023–2024. Tapi "turun" bukan berarti "sampai". Target 2% tetap belum tercapai, sementara proyeksi 6-kuartal ke depan terus diperbarui—dan terus digeser lagi ke depan setiap kali jatuh tempo.
Ini bukan soal ekonom yang tidak kompeten. Ini soal struktur proyeksi konsensus yang secara inheren mean-reverting—selalu menarik angka kembali ke equilibrium teoritis, tanpa cukup memperhitungkan persistence inflasi yang nyata. Ketika supply shock, fiskal ekspansif, dan labor market yang ketat bekerja bersamaan, model berbasis historis pra-2020 kehilangan daya prediksi.
Implikasinya untuk pasar tidak kecil. Kalau konsensus selalu memproyeksikan inflasi turun ke 2% dalam 6 kuartal, maka ekspektasi rate cut Fed juga selalu tampak "tinggal sebentar lagi"—dan pasar obligasi serta ekuitas berulang kali harus repricing ketika realita tidak mengikuti skrip. Duration risk yang underpriced, rate cut yang terlalu cepat di-price-in, valuasi ekuitas yang terlalu agresif—semuanya berakar dari bias proyeksi yang sama.
Selama inflasi masih di atas 2% dan Fed belum benar-benar selesai dengan tugasnya, membaca konsensus ekonom sebagai forward guidance yang reliable adalah risiko tersendiri. Rekam jejak 64 bulan terakhir cukup berbicara.