DCII, TLKM, ISAT, hingga MGLV — tujuh emiten dengan eksposur data center di Indonesia dan pipeline kapasitas yang patut diperhatikan investor.
Infrastruktur digital Indonesia sedang memasuki fase ekspansi serius. Tujuh emiten bursa kini punya eksposur langsung ke bisnis data center — dari yang sudah operasional ratusan megawatt hingga yang masih di tahap pipeline awal.
DCII adalah yang paling mature secara kapasitas. DCI Indonesia sudah mengoperasikan 128 MW, dan pipeline proyek H3 di Bintan bisa menembus angka di atas 1.000 MW. Ini bukan angka kecil — jika terealisasi, DCII akan masuk kategori hyperscale operator kelas regional.
TLKM lewat NeutraDC saat ini mengoperasikan 90,4 MW dengan target 300 MW pada 2030. Pertumbuhan organik yang terukur, tapi dengan backing infrastruktur telekomunikasi yang sudah ada, TLKM punya keunggulan dalam hal konektivitas dan land bank.
ISAT punya struktur yang lebih kompleks — dua entitas sekaligus. BDx Indonesia menggarap segmen edge (30 MW) dan hyperscale (72 MW), sementara proyek CGK4 di Jatiluhur secara teori bisa dikembangkan hingga 500 MW. Jatiluhur sendiri menarik karena potensi akses ke sumber energi yang lebih hijau dan lahan yang lebih murah dibanding Jakarta.
MGLV masuk via Nextier dengan akuisisi dua aset berkapasitas total 96 MW — pendekatan inorganic yang lebih cepat untuk membangun skala. INET lewat SIDI sudah mengoperasikan JKT01 dan berencana membangun green data center di Jatiluhur, mengikuti tren yang sama dengan ISAT.
DSSA dan BNBR berada di tahap lebih awal. SM+ milik DSSA baru di level 10 MW edge dengan Fase 1 target 18 MW yang bisa dikembangkan hingga 60 MW. BNBR lewat Multi Kontrol Nusantara masih di fase rencana — lahan 1,67 hektar di Kalideres belum ada angka kapasitas yang dikonfirmasi.
Yang menarik dari landscape ini adalah polarisasi yang cukup jelas: DCII dan ISAT bermain di skala besar dengan pipeline yang ambisius, sementara sisanya masih di fase build-up. Bagi investor yang ingin exposure ke tema AI infrastructure dan cloud adoption di Indonesia, gap antara emiten yang sudah punya revenue stream dari kapasitas operasional versus yang masih di pipeline perlu diperhitungkan dalam valuasi.
Satu faktor yang sering underappreciated: power supply. Data center skala hyperscale butuh jaminan pasokan listrik yang stabil dan idealnya dari sumber terbarukan — ini yang membuat lokasi seperti Jatiluhur dan Bintan mulai muncul sebagai alternatif serius dibanding Jakarta yang sudah padat dan mahal dari sisi energi.