LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

7 Saham Dividen 8-13%, Valuasi Masih Murah

Di tengah yield obligasi pemerintah 10 tahun yang sudah turun ke kisaran 6.95% dari puncak 7.45% di bulan Juni, dan rupiah yang mulai stabil di Rp17.694/US$, ada satu pertanyaan yang relevan: kalau tekanan makro mereda, apakah saham-saham dividend yield tinggi layak dikoleksi kembali?

Ada tujuh nama small/mid-cap yang menarik untuk dicermati — ARNA, ASGR, BIRD, MSTI, SPTO, TOTL, dan WIIM. Kesamaan mereka: dividend yield LTM di atas 7%, valuasi di bawah 10x TTM PE, double-digit ROE, dan balance sheet yang solid. Hampir semuanya net cash. Satu-satunya yang net debt adalah BIRD, itupun dengan interest coverage yang masih terjaga.

Yang paling menarik dari sisi yield prospektif adalah SPTO (Surya Pertiwi). Sebagai sole distributor TOTO sanitaryware sejak 1978, perusahaan ini punya structural moat yang jarang dimiliki emiten distribusi lain — produk diproduksi lokal, sehingga bebas dari bea masuk dan freight cost yang membebani kompetitor China. Dengan guidance net profit growth ~10% tahun ini dan kemungkinan menaikkan payout di atas 70% (bahkan berencana beralih ke quarterly dividend), implied yield-nya bisa menyentuh 12.8%.

ASGR (Astra Graphia) punya angle berbeda: net cash Rp1.65 triliun, atau sekitar 69% dari market cap-nya. Capex minimal, hanya ~5% dari operating cash flow. 1H26 net profit naik 30% yoy, didorong pertumbuhan segmen IT services yang makin mendominasi seiring perusahaan bergeser dari bisnis FUJIFILM tradisional. Tahun lalu payout ratio-nya 120% — angka yang tidak sustainable secara mekanis, tapi mencerminkan kekuatan cash position mereka. Asumsi konservatif 90% payout saja sudah mengimplikasikan yield sekitar 11%.

BIRD mungkin yang paling familiar. Revenue growth guidance 13% untuk 2026, dengan bisnis non-taksi yang kini berkontribusi ~30% revenue dan tumbuh lebih cepat dari segmen taksi konvensional. Capex turun dari puncak Rp2.1 triliun ke Rp1.7 triliun, dan free cash flow diproyeksikan positif tahun ini. Kalau payout ratio naik dari 65% ke 70%, implied yield-nya sekitar 11.8%.

MSTI (Mastersystem Infotama) bermain di ICT infrastructure dengan klien utama di sektor banking dan telco. Guidance revenue growth mid-to-high single digit, contracts secured per Juni naik 7.5% yoy. Ada potensi upside dari enquiries data centre operators, meski manajemen masih konservatif dalam menilai feasibility-nya. Dengan payout 70% dan consensus earnings growth ~8%, yield implikasinya sekitar 10%.

Untuk WIIM, TOTL, dan ARNA, yield-nya di kisaran 8-9% — lebih rendah, tapi story masing-masing cukup solid. WIIM diuntungkan oleh kepastian tidak ada kenaikan cukai rokok hingga 2027, sementara 1H26 profit-nya lebih dari dua kali lipat. TOTL punya tender pipeline Rp17.2 triliun dengan 34% di antaranya data centre-related — tren yang masih sangat kuat. ARNA mulai pulih setelah dua tahun tertekan oleh biaya gas, kini dibantu safeguard duty dan anti-dumping duty terhadap keramik impor China.

Dari sisi valuation, semua tujuh nama ini trade di bawah 10x TTM PE dengan ROE double-digit — kombinasi yang tidak banyak tersedia di pasar saat ini. TOTL bahkan mencatatkan ROE 41.5% dengan PE hanya 9.3x. WIIM dan SPTO di bawah 7x PE.

Satu caveat yang tidak bisa diabaikan: likuiditas. Average daily turnover tiga bulan terakhir untuk sebagian besar nama ini di bawah US$0.2 juta. Artinya, ini bukan saham yang bisa diakumulasi atau dilepas dengan cepat dalam jumlah besar. Cocok untuk investor dengan horizon panjang yang tidak butuh exit cepat — tapi justru itulah yang membuat yield-nya menarik secara struktural.