Newcastle coal bertahan di kisaran USD130/ton, ICI4 sudah naik sekitar 9% YTD — pricing environment untuk batu bara termal sebenarnya cukup supportif. Tapi kalau hanya mengandalkan harga sebagai katalis, ceritanya sudah terlalu familiar. Yang lebih menarik sekarang adalah sisi volume, dan di sinilah thesis untuk 2H26 mulai terbentuk.
Katalis utama yang perlu diperhatikan adalah revisi RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya) — kuota produksi yang disetujui pemerintah untuk masing-masing emiten. Selama 1H26, ekspor batu bara Indonesia turun bukan karena demand seaborne melemah, tapi karena volume produksi yang disetujui memang terbatas. Buktinya, harga benchmark tidak kolaps meski suplai dari Indonesia berkurang. Artinya, begitu RKAB dilonggarkan, upside langsung ke top-line tanpa perlu menunggu pemulihan harga lebih lanjut.
Di sisi demand, Asia secara keseluruhan masih solid. Total thermal coal imports Asia naik tiga bulan berturut-turut, mencapai sekitar 73,2 juta ton di Juli, didorong oleh China, Jepang, dan Korea Selatan. China sendiri menarik untuk dicermati lebih dalam: coal-fired power generation memang sudah turun ke bawah 50% dari total electricity mix untuk pertama kalinya di 1H26, tapi ini bukan sinyal bahwa coal demand akan runtuh. Electricity demand China terus tumbuh, sementara intermittency dari renewables dan bottleneck transmisi membuat batu bara tetap esensial untuk grid stability. Yang lebih penting secara jangka pendek: produksi batu bara domestik China turun tajam di Juni akibat inspeksi keselamatan tambang, terutama di Shanxi. Hasilnya, impor batu bara China di 1H26 mencapai sekitar 225 juta ton, kembali ke pertumbuhan positif YoY. Ini siklus yang sudah berulang — setiap kali suplai domestik China terganggu, pintu untuk eksportir Indonesia terbuka lebih lebar.
India ceritanya berbeda dan lebih struktural. Ekspor Indonesia ke India turun signifikan karena kebijakan prioritas batu bara domestik. Coal India sudah punya framework yang memungkinkan power plants mengontrak hingga 100% kebutuhan dari suplai domestik. Jadi melemahnya impor India bukan sesuatu yang bisa di-trade secara taktis dalam jangka pendek — kecuali ada gangguan serius di rantai logistik domestik mereka. Satu hal yang patut dimonitor: inventori batu bara di power plant India turun ke sekitar 35 juta ton di Juli, setara sekitar 12 hari konsumsi — di bawah buffer nyaman 3-4 minggu. Kalau produksi atau logistik kereta api India mengecewakan, ada potensi restocking episodik. Tapi ini bukan sesuatu yang bisa dijadikan base case.
Dari sisi saham, pecking order yang masuk akal saat ini adalah AADI > ITMG > PTBA. AADI dan ITMG punya eksposur ekspor yang tinggi dan earnings sensitivity yang lebih besar terhadap kenaikan volume incremental dari RKAB. Valuasi keduanya juga masih menarik — AADI di PER FY26F sekitar 4,1x dengan target price Rp13.400 (upside ~43%), ITMG di 4,4x dengan target Rp34.200 (upside ~38%). PTBA lebih mahal secara relatif di 6,7x dengan upside yang lebih terbatas, dan exposure ekspornya tidak sekuat dua emiten di atas.
Downside risk yang perlu dijaga: pertama, kalau revisi RKAB lebih lambat atau lebih kecil dari ekspektasi; kedua, normalisasi produksi tambang China yang bisa menekan kembali impor mereka; dan ketiga, volatilitas harga minyak yang bisa menekan operating cost emiten. Tapi selama Newcastle bertahan di atas USD130 dan RKAB mulai dilonggarkan, margin environment untuk efficient producers tetap kondusif.