Treasury supply turun di 2026, tapi corporate bond melonjak hampir dua kali lipat. Efek crowding out dari boom AI mulai terasa di pasar obligasi AS.
Ada dinamika menarik yang sedang terbentuk di pasar obligasi AS — dan AI ada di baliknya.
Net issuance Treasury notes and bonds diperkirakan turun cukup tajam, dari sekitar $1.600 miliar di 2025 menjadi sekitar $1.150–$1.200 miliar pada estimasi 2026. Secara nominal, ini terdengar seperti kabar baik: suplai surat utang pemerintah berkurang, tekanan pada yields seharusnya mereda.
Tapi tidak semudah itu.
Di sisi lain, corporate bond issuance justru melonjak hampir dua kali lipat — dari sekitar $650 miliar di 2025 menjadi $1.100–$1.150 miliar di 2026. Lonjakan ini bukan kebetulan. Perusahaan-perusahaan teknologi dan sektor pendukung AI sedang dalam mode ekspansi agresif: membangun data center, mengakuisisi infrastruktur komputasi, dan mendanai capex besar-besaran. Semua itu butuh modal, dan obligasi korporasi menjadi salah satu jalur utamanya.
Inilah yang disebut crowding out effect. Ketika demand terhadap modal meningkat pesat — baik dari sektor swasta maupun pemerintah — supply kredit yang tersedia di pasar terbatas. Investor institusional yang biasanya menyerap Treasury kini harus mengalokasikan portofolio mereka ke corporate bonds dengan yield yang lebih kompetitif. Akibatnya, Treasury yields ikut terdorong naik untuk tetap menarik bagi investor.
Artinya, meski pemerintah AS memangkas penerbitan obligasi baru, total supply instrumen utang di pasar secara keseluruhan tidak benar-benar berkurang. Corporate debt mengisi celah itu — bahkan lebih dari sekadar mengisi. Total gabungan keduanya di 2026 diperkirakan masih berada di kisaran yang sangat besar, mendekati level 2025.
Untuk investor obligasi, ini berarti environment yield tinggi kemungkinan akan bertahan lebih lama dari yang diantisipasi. Duration risk tetap relevan. Bagi equity investor, biaya modal yang tinggi akan terus menekan valuasi, terutama untuk growth stocks yang cash flow-nya masih jauh di depan.
Yang menarik adalah ironi di balik ini: boom AI yang diharapkan mendorong efisiensi dan produktivitas justru — setidaknya dalam jangka pendek — berkontribusi pada tekanan di pasar fixed income global. Capital allocation ke AI bukan tanpa cost makro.