Alphabet, Amazon, Meta, Microsoft punya lebih dari $3 triliun komitmen AI yang tidak tampak di neraca. Ini implikasinya bagi investor.
Angka capex Big Tech yang selama ini ramai dibahas ternyata hanya sebagian kecil dari gambaran sesungguhnya. Total kewajiban finansial Alphabet, Amazon, Meta, dan Microsoft untuk infrastruktur AI — ketika dihitung termasuk yang tidak tercatat langsung di neraca — melampaui $3 triliun. Ini bukan proyeksi atau estimasi analis. Ini angka yang tersebar di catatan kaki laporan keuangan resmi masing-masing perusahaan.
Secara on-balance sheet, keempat perusahaan ini mencatat $248 miliar lease liabilities dan $356 miliar long-term debt — angka besar, tapi masih dalam batas yang mudah dicerna pasar. Yang jauh lebih besar justru tersimpan di luar neraca utama: $904 miliar dari leases yang belum berjalan, dan $1,52 triliun purchase commitments — sebagian besar untuk chip dan kapasitas data center. Meta sendiri punya $347 miliar leases not started, sementara Alphabet memimpin purchase commitments di angka $811 miliar.
Yang membuat angka ini lebih mencolok adalah laju pertumbuhannya. YoY growth dari off-balance sheet obligations Alphabet dan Meta melonjak lebih dari 800% — jauh melampaui pertumbuhan capex aktual mereka yang hanya di kisaran 30–40%. Artinya, perusahaan-perusahaan ini mengunci komitmen masa depan jauh lebih agresif dibanding yang terlihat dari angka capex kuartalan yang biasa dikutip analis.
Di balik angka-angka itu, ada struktur yang lebih menarik: circular financing ecosystem. Hyperscalers seperti Google dan Amazon mendanai AI labs — Anthropic mendapat komitmen hingga $13 miliar dari Amazon dan $12 miliar dari Google — yang kemudian menjadi pelanggan terbesar infrastruktur komputasi mereka sendiri. OpenAI di sisi lain terikat erat dengan Microsoft. CoreWeave, neo-cloud provider, masuk sebagai lapisan tambahan yang menyerap kapasitas GPU dan menjualnya kembali ke ekosistem yang sama. Uang berputar di lingkaran yang sama, dan setiap putaran menambah angka komitmen di buku masing-masing pemain.
Dari perspektif investasi, ini menciptakan dua sisi yang perlu dipahami. Di satu sisi, skala komitmen ini mencerminkan keyakinan sangat kuat bahwa permintaan AI infrastructure akan terus tumbuh — dan perusahaan-perusahaan ini tidak mau kehabisan kapasitas. Di sisi lain, sebagian besar kewajiban ini belum terefleksi dalam leverage ratio atau debt-to-equity yang lazim digunakan untuk menilai kesehatan neraca. Jika demand AI melambat atau monetisasi tidak sesuai ekspektasi, kewajiban yang sudah terkunci ini tidak bisa begitu saja dibatalkan.
Nvidia, ironisnya, justru punya off-balance sheet growth yang lebih moderat (~150%) dibanding para pembelinya. Ini masuk akal — Nvidia ada di sisi menerima purchase commitments, bukan mengeluarkannya. Oracle dengan pertumbuhan ~600% menunjukkan agresivitas yang setara Big Tech meski ukurannya lebih kecil, mencerminkan taruhan besar mereka pada cloud infrastructure untuk AI workloads.
Bagi investor yang mengikuti sektor ini, membaca capex saja tidak cukup. Angka yang lebih relevan untuk memahami exposure finansial perusahaan-perusahaan ini ada di catatan kaki — dan totalnya jauh lebih besar dari yang tampak di headline.