Ada satu angka yang perlu dicermati sebelum semua noise pasar lainnya: AI infrastructure spending di AS sudah menyentuh sekitar 2.8% dari GDP. Lebih besar dari railroad boom yang dulu mengubah wajah ekonomi Amerika. Dan menurut kalkulasi akademisi Columbia Business School, tanpa belanja AI ini, AS kemungkinan besar sudah masuk resesi. Bukan prediksi, bukan proyeksi — ini sudah terefleksi di data makro aktual.
Yang menarik bukan hanya skalanya, tapi kecepatannya. Capex AI menekan macro data dalam waktu yang relatif singkat, dan efeknya terasa ke seluruh rantai — dari demand listrik, chip, data center, sampai properti industri. Ini bukan siklus teknologi biasa.
Di sisi unicorn, landscape-nya sudah berubah drastis. Anthropic kini divaIuasi $965 miliar, melampaui OpenAI di $852 miliar. ByteDance masih kuat di $480 miliar. Yang lebih menarik adalah lapisan di bawahnya — Safe Superintelligence, Anysphere, Cognition, Scale AI — semua sudah bernilai miliaran dolar dan belum IPO. Capital concentration di AI bukan tren, ini sudah struktural. AI bukan lagi sekadar segmen software; ia sedang menjadi core technology layer yang menopang hampir semua industri — dari defense, robotics, financial services, sampai enterprise productivity.
Satu data point yang sering luput dari perhatian: US companies sekarang menghasilkan hampir dua pertiga dari seluruh profit korporasi OECD, naik dari sekitar 45% di 2012. Sebagian besar kenaikan itu terjadi setelah 2022 — persis ketika ekonomi Eropa dan Jepang stagnan sementara margin perusahaan AS terus melebar. Buffett bilang "never bet against America" — datanya membuktikan itu bukan sekadar retorika.
Tapi ada satu vulnerability yang serius dan sering underpriced oleh pasar: ketergantungan AS pada China untuk rare earth. Sekitar 70% impor rare earth AS berasal dari China. Dan rare earth bukan hanya soal fighter jet — ini menyentuh missile guidance systems, radar, drone, satelit, sampai kapal selam. Beijing sudah mulai menunjukkan willingness untuk membatasi ekspor mineral strategis. Kalau supply chain ini terganggu, kapasitas produksi defense AS bisa terpukul signifikan tanpa satu pun peluru ditembakkan. Ini adalah leverage geopolitik yang nyata — dan pasar defense belum sepenuhnya me-price-in skenario ini.
Di luar itu, ada dua data points yang lebih bersifat struktural-sosial tapi relevan untuk memahami arah kapital jangka panjang:
- Norway's sovereign wealth fund — terbesar di dunia dengan AUM $2.3 triliun — untuk pertama kalinya mengungkapkan kepemilikan 0.05% di SpaceX. Kecil secara persentase, tapi sinyal penting bahwa aset privat berkualitas tinggi kini mulai masuk radar sovereign capital.
- 400 orang terkaya di AS kini menguasai lebih dari 20% dari total GDP AS — naik 146% dalam tiga dekade terakhir. Wealth concentration ini bukan hanya isu sosial; ia punya implikasi terhadap consumption pattern, tax policy risk, dan arah regulasi jangka panjang.
Bottom line: AI spending sudah terlalu besar untuk diabaikan sebagai cyclical story. Ini adalah structural shift yang sedang me-reshape earnings, capex allocation, dan geopolitical risk secara bersamaan. Investor yang masih menunggu "kepastian" mungkin sudah terlambat beberapa siklus.