Perang harga di industri AI makin brutal. Biaya token LLM sudah turun 40% dari puncaknya di bulan Mei — dan ini bukan sekadar efisiensi teknologi biasa, melainkan sinyal pergeseran struktural yang punya implikasi besar bagi investor di sektor teknologi.
Pemicunya jelas: model AI asal Tiongkok seperti DeepSeek, Qwen, dan Kimi menawarkan performa yang kompetitif dengan harga 10 hingga 35 kali lebih murah dibanding model AS. Tekanan ini cukup kuat untuk memaksa OpenAI, Google, dan Anthropic memangkas harga layanan mereka hingga 80%. Price war di lapisan intelligence ini menggerus margin secara signifikan — dan pasar tampaknya belum sepenuhnya pricing in dinamika ini.
Silicon Data LLM Token Expenditure Index mencatat perjalanan yang menarik: dari kisaran 1.0 di Desember 2025, sempat melonjak ke hampir 1.8 di pertengahan Januari, lalu terus naik hingga menembus 2.0 di bulan Mei — sebelum akhirnya sell-off tajam membawa indeks ini ke 1.2901 di Juli 2026. Pola ini mencerminkan euforia adopsi awal yang kemudian terkoreksi seiring margin compression yang mulai terasa di seluruh rantai nilai.
Yang menarik justru ada di sisi demand. Logika industrinya cukup straightforward: cheaper inference → more AI adoption → more token consumption → more demand for compute. Artinya, meski harga per token turun, volume penggunaan bisa tumbuh cukup besar untuk mengompensasi — bahkan melampaui — penurunan harga tersebut. Ini persis yang membuat posisi hyperscalers dan infrastructure providers jauh lebih menarik dibanding penyedia model AI itu sendiri.
Ada satu tesis investasi yang mulai terbentuk di sini: AI intelligence sedang bergerak menjadi komoditas, tapi AI compute tidak. Ketika margin di lapisan model terus tertekan oleh kompetisi harga, permintaan terhadap infrastruktur komputasi — GPU, data center, networking — justru berpotensi tumbuh lebih cepat dari sebelumnya. Adopsi yang lebih luas karena harga lebih murah pada akhirnya membutuhkan lebih banyak compute, bukan lebih sedikit.
Dengan 46% penggunaan model AI Tiongkok sudah tercatat di beberapa segmen enterprise, angka ini bukan lagi niche. Ini adalah pergeseran preferensi yang nyata, dan tekanan pada pemain AS kemungkinan belum selesai. Bagi investor, pertanyaannya bukan lagi siapa yang punya model AI terbaik — tapi siapa yang menguasai infrastruktur ketika semua orang berlomba menggunakan AI dengan biaya semurah mungkin.