Indikator makroekonomi Indonesia menunjukkan sinyal pemulihan yang cukup solid, ditandai oleh kembalinya aktivitas manufaktur ke zona ekspansif serta kinerja perdagangan yang melampaui ekspektasi konsensus. Tren disinflasi yang berlanjut juga memberikan ruang bagi kebijakan moneter yang lebih fleksibel ke depan.
S&P Global Indonesia Manufacturing PMI untuk periode Juli tercatat naik ke level 50.2 dari posisi 46.9 pada bulan sebelumnya. Rebound ke teritori ekspansif ini mengindikasikan pulihnya aktivitas produksi dan permintaan baru di sektor riil setelah sempat mengalami kontraksi singkat.
Dari sektor eksternal, kinerja perdagangan menunjukkan performa di atas estimasi pasar. Ekspor bulan Juni tumbuh positif sebesar 8.84% YoY, berbalik arah dari kontraksi -5.73% pada periode sebelumnya dan melampaui estimasi konsensus yang memperkirakan penurunan sebesar -1.15%. Sementara itu, impor melonjak 34.27% YoY, jauh di atas ekspektasi sebesar 23.30%. Pertumbuhan impor yang kuat ini mencerminkan tingginya penyerapan bahan baku dan barang modal untuk mendukung aktivitas domestik. Hasilnya, trade balance mencatatkan defisit yang menyusut menjadi -$450 juta, lebih baik dari proyeksi pasar yang memperkirakan defisit sebesar -$780 juta.
Di sisi stabilitas harga, tekanan inflasi terpantau mereda. CPI YoY pada bulan Juli tercatat sebesar 2.88%, lebih rendah dari konsensus 3.20% dan realisasi bulan sebelumnya sebesar 3.34%. Core CPI YoY stabil di level 2.76%, sedikit di bawah estimasi pasar sebesar 2.79%. Secara bulanan, terjadi deflasi sebesar -0.14% MoM (CPI NSA), berbanding terbalik dengan estimasi inflasi tipis 0.09%. Data inflasi yang terkendali ini memberikan sinyal bahwa daya beli masyarakat masih terjaga di tengah normalisasi harga komoditas.
Fokus pasar berikutnya akan tertuju pada rilis pertumbuhan GDP Q2 yang diproyeksikan tumbuh sebesar 5.10% YoY, serta data cadangan devisa (Foreign Reserves) dan Consumer Confidence Index untuk melihat daya tahan ekonomi domestik menghadapi volatilitas global.