LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

ANTAM 1H26: Profit Tumbuh 6x Lebih Cepat dari Revenue

Laba bersih ANTAM melonjak +36% YoY di 1H26 meski revenue hanya naik +6,3%. Margin expansion masif, nikel jadi growth engine baru.


Ada yang menarik dari kinerja ANTAM di paruh pertama 2026: revenue tumbuh moderat +6,3% YoY menjadi Rp62,71 triliun, tapi laba bersih yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk melonjak +36,0% menjadi Rp6,39 triliun. Profit tumbuh hampir enam kali lebih cepat dari revenue — dan itu bukan kebetulan.

Ini adalah cerita tentang operating leverage yang bekerja. Ketika cost structure terkendali sementara harga komoditas mendukung, setiap rupiah tambahan revenue mengalir jauh lebih efisien ke bottom line. Gross margin melebar dari 14,0% ke 17,3% (+3,3 ppt), operating margin dari 10,4% ke 13,5% (+3,1 ppt), dan net margin dari 8,0% ke 10,2% (+2,2 ppt). Ekspansi terjadi di seluruh lini — bukan hanya di satu titik.

Secara struktural, emas masih mendominasi dengan porsi ~80% dari total penjualan (Rp50,39 triliun), meski pertumbuhannya hanya +1% YoY. Fungsinya lebih sebagai revenue anchor yang stabil — bukan motor pertumbuhan. Yang menarik justru di segmen nikel dan feronikel: penjualan naik +32% YoY menjadi Rp10,41 triliun, dengan volume feronikel yang terjual meningkat dari 5.763 TNi ke 7.605 TNi. Bauksit dan alumina juga tumbuh +28% YoY, didorong produksi Chemical Grade Alumina yang naik +12%. Dua segmen ini mulai mengambil peran sebagai growth engine yang nyata.

Earnings bridge 1H26 cukup bersih: dari gross profit Rp10,85 triliun, setelah dikurangi operating expenses Rp2,41 triliun, operating profit tercatat Rp8,44 triliun. Kontribusi dari share of profit associates (Rp395 miliar) dan gain on sale of subsidiary (Rp300 miliar) turut mendorong PBT ke Rp9,00 triliun (+37,8% YoY). EPS dasar naik ke Rp265,85 dari Rp195,43 di 1H25.

Satu hal yang perlu diperhatikan secara seksama: finance cost melonjak +757% YoY dari Rp40,5 miliar ke Rp346,6 miliar. Angka ini masih relatif kecil dibanding skala operasional ANTAM, tapi laju kenaikannya tidak bisa diabaikan begitu saja — terutama jika ekspansi capex ke depan dibiayai dengan utang.

Dari sisi kuartalan, Q2 2026 memang turun -12,6% QoQ (Rp2,21 triliun vs Rp3,41 triliun di Q1), tapi secara YoY masih tumbuh +16%. Pola seperti ini lazim di perusahaan komoditas yang terpengaruh seasonality dan timing pengiriman — bukan sinyal deteriorasi fundamental.

Gambaran besarnya: ANTAM sedang dalam proses transformasi dari produsen komoditas konvensional menjadi pemain terintegrasi di rantai nilai mineral. Nikel dan alumina adalah dua titik di mana nilai tambah itu sedang dibangun. Dengan margin yang terus melebar dan diversifikasi segmen yang mulai matang, profil keuangan ANTAM di 2H26 akan sangat bergantung pada arah harga nikel global dan keberlanjutan produksi feronikel.