LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

APAC Juli 2026: Korea Jatuh 30%, Tapi Beli atau Kabur?

Korea membukukan salah satu koreksi terbesar di APAC sepanjang Juli 2026 — turun 16.7% dalam sebulan, dan hampir 30% dari YTD peak-nya. Angka itu terlihat mengerikan di permukaan. Tapi kalau ditelusuri lebih dalam, sell-off ini bukan karena fundamentalnya retak.

Yang terjadi lebih bersifat teknikal: crowded positioning, daily rebalancing dari single-stock leveraged ETF, dan deleveraging massal retail investor. Bukan karena outlook AI-driven tech-nya memburuk. Valuasi FTSE Korea pun masih di bawah rata-rata historis 10 tahunnya, meski sudah rally 141% dalam 12 bulan terakhir — didukung oleh upward revision EPS yang konsisten dari sektor semikondukter dan telekomunikasi.

Konteks yang perlu dipahami: SK Hynix dan Samsung Electronics menguasai sekitar 80% pasar High Bandwidth Memory (HBM) global — komponen kritis untuk AI accelerator dan GPU generasi terbaru. Kapasitas DRAM dan HBM dari tiga pemain utama (termasuk Micron) diperkirakan sudah committed sampai 2027. Supply constraint ini, dikombinasikan dengan capex hyperscaler yang terus meningkat, menciptakan demand struktural yang sulit diabaikan. Taiwan dan Jepang punya cerita serupa — 12M forward sales growth untuk Tech Hardware di kedua pasar itu juga masih solid.

Di sisi lain APAC, Singapore jadi bintang 3 bulan terakhir dengan return +15.6% dalam USD. Sektor Financials naik 25.9%, didorong wealth management yang booming. Dividend yield Singapore yang mencapai 4.4% — dua kali lipat rata-rata APAC — menjadi magnet saat volatilitas tinggi. Investor yang takut dengan AI capex spending berlebihan dan crowded positioning di Korea, banyak yang rotate ke sini.

China sedikit berbeda. FTSE China memang turun 2.9% selama 3 bulan, tapi rebound 7.7% di Juli saja — ditopang Financials, Consumer Discretionary, plus nama-nama seperti Alibaba dan Xiaomi yang naik karena model AI baru, perbaikan profitabilitas, dan lokalisasi rantai pasok chip. GDP China Q2 memang melambat ke 4.3% dari 5% di Q1, tapi ekspor tetap kuat (+13.4% y/y di H1) dan transformasi strukturalnya nyata: ekspor "new three" — EV, baterai lithium, solar panel — terus menggeser produk lama yang labor-intensive.

Makro APAC: Divergensi Kebijakan yang Makin Tajam

Tidak ada satu narasi tunggal untuk APAC saat ini. India tumbuh 6.4% (IMF forecast, Juli 2026), ditopang konsumsi domestik. China digerakkan high-tech manufacturing. Korea, Taiwan, Malaysia, Thailand — semua dapat tailwind dari demand AI hardware global.

Tapi di sisi inflasi dan kebijakan moneter, jalannya berbeda-beda:

  • Australia dan Filipina sudah hike lebih awal, tapi CPI masih di atas upper band target.
  • Bank Indonesia sudah kumulatif +100bps, dan berhasil membawa inflasi kembali ke dalam target. Real policy rate Indonesia sekarang tertinggi di APAC — artinya ruang untuk hike lanjutan lebih terbatas.
  • BoK hike 25bps di Juli (pertama dalam tiga tahun), mendorong won rally 8.7% dalam sebulan.
  • PBoC, RBI, BNM tetap on-hold, fokus mendukung pertumbuhan karena inflasi relatif jinak.
  • BoJ lanjut normalisasi — hike moderat plus pengurangan pembelian JGB — tapi kondisi keuangan masih dianggap akomodatif karena real interest rate masih negatif.

Satu risiko yang perlu diperhatikan: harga minyak yang sempat turun dari puncak $140–145 ke $65–70, kini rebound ke ~$90 di akhir Juli. Ini potensial memicu tekanan inflasi lagi, terutama untuk ekonomi ASEAN yang bukan net energy exporter — Indonesia dan Filipina paling rentan dari sisi current account.

Fixed Income: China dan India Jadi Safe Haven

Di pasar obligasi, Chinese Government Bonds (CGB) dan Indian Government Bonds (IGB) jadi outperformer. India +2.5% dalam 3 bulan (USD terms), didorong langkah RBI menarik modal asing masuk — termasuk perluasan Fully Accessible Route ke obligasi tenor panjang dan penghapusan pajak untuk investor asing.

CGB punya cerita yang lebih struktural. Korelasinya dengan US Treasuries terus menurun — mencerminkan kebijakan moneter yang makin independen. Volatilitas yield-nya juga lebih rendah dibanding peers, termasuk JGB sejak 2023. Bagi investor global yang mencari diversifikasi fixed income, CGB semakin menarik sebagai aset yang bergerak dengan logikanya sendiri.

Sebaliknya, obligasi Korea dan Jepang jadi yang paling lemah — yield naik, mata uang tertekan. Ironis, karena equity kedua negara itu justru jadi top performer 12 bulan terakhir. Risk-on sentiment memang bisa membuat equity dan bond bergerak berlawanan arah secara bersamaan.

Yen Jepang sempat rebound ke level USD/JPY ~157 setelah intervensi bersama AS-Jepang, tapi strukturnya belum berubah — rate differential yang lebar antara AS dan Jepang masih jadi headwind utama. Apresiasi yen ini lebih intervention-driven daripada fundamental-driven.

Bottom line: APAC bukan satu pasar, tapi belasan pasar dengan dinamika yang makin divergen. Korea menawarkan risk-reward yang asimetris bagi yang berani masuk di tengah koreksi teknikal. Singapore menjadi defensive play yang solid. Dan China — baik di equity maupun bond — punya narasi struktural jangka panjang yang underappreciated banyak investor global.