Amerika Serikat dilaporkan membeli yen Jepang untuk pertama kalinya sejak 2011. Transaksi tersebut didanai melalui penjualan euro, bukan dolar AS. Struktur ini penting: Washington dapat membantu menstabilkan yen tanpa menambah supply dolar di pasar valuta asing yang berpotensi menekan greenback.
Langkah tersebut menyasar sebuah feedback loop yang dapat menjalar dari pasar mata uang ke obligasi dan ekonomi riil. Yen yang terus melemah membuat otoritas Jepang membutuhkan likuiditas dolar lebih besar untuk melakukan intervensi. Salah satu sumber dana yang tersedia adalah portofolio US Treasury milik Jepang, yang nilainya sekitar US$1,19 triliun dan merupakan kepemilikan asing terbesar.
Jika Jepang menjual Treasury dalam skala besar, harga obligasi AS akan turun dan yield naik. Tekanan ini sudah relevan ketika yield Treasury tenor 30 tahun menyentuh sekitar 5,23%. Kenaikan long-term yield memperketat financial conditions meskipun Federal Reserve tidak menaikkan policy rate. Dampaknya masuk ke mortgage rate, kredit kendaraan, corporate refinancing, hingga discount rate yang digunakan untuk menilai saham.
Bagi equity market, yield tinggi biasanya paling membebani saham growth dan perusahaan dengan valuasi berbasis cash flow jangka panjang. Sektor properti, consumer discretionary, dan emiten dengan leverage besar juga menghadapi risiko kenaikan interest expense serta perlambatan permintaan. Sebaliknya, bank dapat memperoleh dukungan dari asset yield yang lebih tinggi, tetapi keuntungan itu dapat tergerus jika funding cost dan credit risk ikut meningkat.
Pembelian yen oleh AS memotong siklus tersebut sebelum berkembang menjadi Treasury sell-off yang lebih agresif. Selain intervensi langsung, Jepang memiliki opsi menggunakan fasilitas FIMA Repo milik The Fed. Melalui fasilitas ini, Treasury dapat dijadikan collateral untuk memperoleh dolar, sehingga Jepang tidak harus menjual obligasinya di pasar terbuka. Mekanisme tersebut membantu menjaga market liquidity dan mengurangi upward pressure pada yield.
Pasar kini akan menilai apakah transaksi ini merupakan intervensi satu kali atau awal dari coordinated currency policy antara AS dan Jepang. Efektivitas jangka panjang tetap bergantung pada interest-rate differential: selama yield AS jauh lebih menarik dibandingkan yield Jepang, tekanan struktural terhadap yen belum sepenuhnya hilang. Untuk investor, arah USD/JPY, arus kepemilikan asing di Treasury, dan pergerakan long-end yield menjadi indikator utama. Stabilisasi yen yang diikuti penurunan yield akan mendukung risk assets, sedangkan pelemahan yen lanjutan dapat kembali memicu bond sell-off dan mengetatkan biaya modal global.