Pasar Asia memasuki babak baru yang lebih kompleks. AS baru saja memberlakukan tarif 10–12,5% terhadap 60 negara, tapi yang lebih penting bukan besaran tarifnya — melainkan basis hukumnya. Perpindahan dari Section 122 ke Section 301 memberi administrasi Trump fleksibilitas jauh lebih besar untuk memperluas tarif secara unilateral, terutama terhadap produk-produk China yang dianggap terdampak unfair trade practices. Efektif levy AS terhadap China naik menjadi 22,2%, naik sekitar 1,4 percentage points. Bukan transformatif sekarang — tapi risikonya bersifat asimetris ke atas, terutama kalau tekanan politik domestik menguat pasca midterms dan deal yang disepakati di Korea Summit berakhir November.
Ini bukan sekadar headline risk jangka pendek. Trade uncertainty kemungkinan besar akan kembali mendominasi narasi di H2 2026, dengan US-China sebagai episentrum. Export-heavy markets perlu diwaspadai.
BOJ: Sabar, Tapi Pasar Sudah Bergerak Duluan
Inflasi Jepang secara gradual mendekati target 2%, tapi belum cukup kuat untuk memaksa Bank of Japan bergerak lebih cepat. National CPI Juni tercatat 1,7% y/y, sementara PPI sudah di 7,1% y/y — pipeline pressure mulai terasa. Konsensus menempatkan headline CPI 2026 di sekitar 2%, dengan core inflation yang bisa melampaui target di fiscal year ini sebelum melandai di 2027.
BOJ kemungkinan besar hold di pertemuan minggu ini, dengan rate hike 25 bps berikutnya baru diperkirakan di Q1 2027. Satu bulan data inflasi yang solid belum cukup untuk menggeser timeline tersebut. Yang menarik justru di sisi yield: 10-year JGB sudah menyentuh 2,76%, didorong oleh kekhawatiran fiskal setelah PM Takaichi mengumumkan roadmap investasi JPY 370 triliun hingga 2035. Jika skenario hike Q1 2027 terkonfirmasi, yield 10-year JGB berpotensi menguji level 3,0%.
Untuk ekuitas Jepang, kombinasi JPY yang lemah (saat ini di 163,57 per USD) dan earnings momentum yang membaik tetap menjadi tailwind. Tapi perlu dicatat: JPY di atas 163 membawa intervention risk yang nyata dari otoritas Jepang. Nikkei sendiri sudah naik 28,65% YTD — salah satu outperformer terkuat di antara major indices.
MAS Tightening, Singapore Jadi Outlier Positif
Di tengah sebagian besar bank sentral Asia yang masih dalam mode wait-and-see, Monetary Authority of Singapore justru memperketat kebijakan — menaikkan slope S$NEER sebagai respons terhadap inflasi yang re-accelerating. Core CPI naik ke 1,6% y/y di Juni, headline 1,9% y/y. MAS juga merevisi naik proyeksi pertumbuhan ke 5,0% dari sebelumnya 4,1%, dan mengantisipasi output gap yang melebar.
Implikasinya untuk ekuitas Singapore cukup menarik: tightening MAS cenderung positif untuk sektor finansial rate-sensitive, dan STI sendiri menunjukkan resiliensi yang notable di tengah pullback pasar Asia yang lebih luas. Further tightening di 2026 tidak bisa dikesampingkan.
China: Easing yang Mengecewakan?
Politburo meeting Juli diperkirakan mengakui fragmentasi recovery dan fading cyclical momentum, dengan pivot ke demand-side support. Tapi ekspektasi perlu dijaga: tidak ada fiscal measures baru yang signifikan, hanya akselerasi dari budget expansion yang sudah diumumkan April lalu. PBOC kemungkinan mempertahankan 7-day reverse-repo rate di 1,40%, dengan potensi RRR cut sebagai satu-satunya pelonggaran konkret. Industrial profits yang mendingin ke 15% y/y mengonfirmasi bahwa momentum domestik belum solid.
Untuk positioning, Korea dan Taiwan sudah recover dari koreksi sebelumnya — earnings momentum di AI-linked supply chains tetap resilient dan layak untuk di-lean in. Di sisi lain, India (Nifty50 -9,04% YTD) dan Indonesia (IDR melemah 7,18% YTD) masih menjadi area yang perlu kehati-hatian lebih.