LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

ASII 1H26 Meleset, Tapi Ada Alasan Kuat Hold

Hasil 1H26 Astra International memang tidak memuaskan — tapi konteksnya penting untuk dipahami sebelum terburu-buru menarik kesimpulan.

Revenue konsolidasi ASII di 1H26 tercatat Rp157,9 triliun, turun 3% YoY dan baru menyentuh 49,4% dari full-year forecast. Yang lebih menyakitkan adalah net profit yang drop 19,2% YoY ke Rp12,5 triliun — hanya 39,9% dari target FY26. Angka ini jauh dari ideal untuk periode yang seharusnya sudah melewati separuh tahun. Namun ada dua hal yang perlu digarisbawahi: pertama, ada Rp2,4 triliun non-recurring losses dari fair-value adjustments dan impairments yang menekan bottom-line. Kalau dikecualikan, underlying net profit sebenarnya hanya turun 7,2% YoY ke Rp14,9 triliun — jauh lebih moderat. Kedua, secara QoQ ada perbaikan nyata: 2Q26 net profit naik 14,2% dari kuartal sebelumnya.

Biang kerok utama pelemahan ini ada di segmen Mining Solutions & Heavy Equipment (HEMCE). Revenue segmen ini turun 14,9% YoY ke Rp58,3 triliun, sementara underlying segment net profit amblas 46% YoY ke Rp2,7 triliun. Penyebabnya berlapis: penjualan Komatsu turun 27% ke 1.994 unit, volume overburden removal turun 10%, dan — ini yang paling dramatis — gold sales dari tambang Martabe hanya 23.000 oz versus 125.000 oz di 1H25. Operasional Martabe yang sempat terganggu menjadi lubang besar yang menyedot earnings HEMCE secara signifikan.

Di sisi lain, segmen Automotive justru menjadi penopang yang solid. Revenue automotive naik 5,9% YoY ke Rp66,1 triliun, dengan net profit segmen tumbuh 9,4% YoY ke Rp5,9 triliun. Market 4W nasional tumbuh 15,9% YoY ke 436.564 unit, dan Astra berhasil menjual 222.000 unit dengan market share 51%. Divisi Components juga ikut berkontribusi positif, dengan net profit naik 23% YoY ke Rp921 miliar. Financial Services pun stabil — net profit naik 6% YoY ke Rp4,6 triliun, didukung pertumbuhan new consumer financing 10% YoY.

Untuk 2H26, ada beberapa katalis yang layak diperhatikan:

  • Normalisasi Martabe — Operasi sudah resume di 2Q26. Gold sales yang tadi hanya 23.000 oz di 1H26 seharusnya pulih signifikan di semester dua, dan ini langsung berdampak ke HEMCE earnings.
  • Automotive momentum — Pasar 4W Indonesia yang sedang dalam tren recovery memberikan tailwind untuk vehicle sales, financing, dan aftermarket demand.
  • Share buyback Rp8 triliun — Program ini memberikan floor yang jelas untuk valuasi dan sinyal bahwa manajemen percaya pada intrinsic value ASII.

Dari sisi valuasi, ASII saat ini diperdagangkan di 6,6x P/E 2026F — murah secara historis untuk konglomerat dengan earnings base sediversifikasi ini. Dividend yield-nya juga menarik di kisaran 7,9% untuk FY26F, dan balance sheet semakin kuat dengan proyeksi net cash position mulai 2026F. FCF per share bahkan diproyeksikan melonjak ke Rp905 dari Rp559 di 2025A.

Downside risk yang perlu diwaspadai: pemulihan Martabe yang lebih lambat dari ekspektasi, permintaan heavy equipment yang tetap lesu seiring tekanan di sektor batu bara, serta potensi non-recurring losses lanjutan dari portofolio investasi. Automotive demand yang melemah — misalnya karena daya beli tertekan — juga bisa memangkas thesis recovery 2H26 ini.

Intinya: 1H26 memang berat, tapi sebagian besar tekanannya bersifat temporer dan sudah mulai berbalik arah. Yang perlu dipantau ketat adalah seberapa cepat Martabe bisa kembali ke kapasitas normal dan apakah momentum automotive bisa bertahan hingga akhir tahun.