Foreign inflow kembali ke aset Rupiah pekan ini, tapi SRBI yang menyedot hampir semua dana. Saham justru mencatat net outflow Rp72,5 triliun YTD.
Pekan 3–6 Agustus 2026, asing kembali menjadi net buyer di aset Rupiah dengan total net inflow Rp5,7 triliun — membalikkan outflow Rp2,7 triliun dari minggu sebelumnya. Angka ini terdengar positif, tapi ada satu detail yang perlu dibaca lebih teliti: hampir seluruh derasnya dana itu mengalir ke SRBI, bukan ke pasar saham.
SRBI mencatat net inflow mingguan sebesar Rp6,8 triliun, membalikkan outflow Rp8,9 triliun di pekan sebelumnya. Secara kumulatif YTD, instrumen ini sudah menyerap Rp176,9 triliun dari investor asing — jauh melampaui kelas aset lain. Ini bukan anomali sesaat. Pola ini konsisten sepanjang tahun: asing memilih instrumen moneter berbunga tinggi ketimbang menanggung risiko ekuitas di pasar yang masih volatile.
INDOGB juga masih dalam zona negatif secara mingguan, meski tekanannya mereda — outflow turun dari Rp1,1 triliun menjadi Rp0,6 triliun. Secara YTD, obligasi pemerintah masih positif di Rp18,3 triliun, artinya ada selektifitas: asing tidak sepenuhnya menghindari fixed income, tapi lebih memilih tenor dan instrumen yang memberikan carry yang lebih pasti.
Yang paling mencerminkan sentimen sebenarnya adalah equities. Pekan ini mencatat net outflow Rp0,5 triliun, berbalik dari inflow Rp6,8 triliun minggu lalu. Dan secara YTD, kumulatif outflow di pasar saham sudah melebar ke Rp72,5 triliun — menjadikannya kelas aset dengan performa arus modal asing terburuk sepanjang 2026.
Ini bukan sekadar soal risk-off global. Struktur aliran dana asing ke Indonesia tahun ini menggambarkan sesuatu yang lebih spesifik: asing mau masuk ke Indonesia, tapi dalam format yang terkontrol — instrumen dengan imbal hasil tetap, likuiditas tinggi, dan eksposur risiko pasar yang minimal. SRBI memenuhi semua kriteria itu. Saham tidak.
Selama divergensi ini berlanjut, reli IHSG yang sustainable akan sulit terjadi hanya dari katalis domestik. Yang dibutuhkan adalah pergeseran appetite asing dari carry trade ke risk-on — dan itu biasanya baru terjadi ketika ada kombinasi: rupiah stabil, earnings outlook membaik, atau ada kejutan positif dari sisi kebijakan. Sampai saat itu, SRBI tetap menjadi magnet utama modal asing di pasar keuangan Indonesia.