LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Asing Borong SBN, Rupiah Jadi Kuncinya

Foreign inflow ke aset rupiah melonjak ke IDR 9,4 triliun dalam sepekan. INDOGBs jadi primadona, bukan karena yield spread, tapi karena stabilitas rupiah.


Dalam tiga hari perdagangan pekan ini (18–20 Agustus), asing mengalirkan net inflow sebesar IDR 9,4 triliun ke aset rupiah — lebih dari dua kali lipat angka minggu sebelumnya yang hanya IDR 4,4 triliun. Lonjakan ini bukan tersebar merata; hampir seluruhnya terkonsentrasi di satu instrumen.

INDOGBs menyedot IDR 8,2 triliun dalam sepekan, naik drastis dari IDR 2,2 triliun pada periode sebelumnya. Partisipasi asing di lelang obligasi pemerintah hari Selasa menjadi katalis utama. Yang menarik: minat ini datang meskipun yield US Treasury sedang berada di level yang lebih tinggi — kondisi yang secara teori seharusnya membuat emerging market bonds kurang menarik.

Apa yang berubah? Jawabannya ada di nilai tukar. Apresiasi rupiah di tengah pelemahan DXY membuat carry trade ke INDOGBs terlihat lebih menguntungkan — bukan karena US–Indonesia yield differential yang melebar, tapi karena currency risk yang menyempit. Ketika rupiah stabil bahkan menguat, investor asing tidak perlu khawatir return mereka tergerus di sisi FX. Dalam konteks ini, stabilitas rupiah berfungsi sebagai risk buffer, bukan sekadar faktor pendukung.

Di sisi ekuitas, ada pergeseran kecil yang layak dicatat. Setelah mencatat net outflow IDR 0,5 triliun pekan lalu, JCI akhirnya menarik net inflow IDR 1,3 triliun. Namun secara YTD, gambaran besarnya masih jauh dari positif: kumulatif outflow saham sudah mencapai IDR 71,6 triliun sejak awal tahun. Satu minggu inflow tidak cukup untuk mengubah tren struktural itu.

SRBI justru bergerak ke arah sebaliknya — mencatat net outflow tipis IDR 0,04 triliun setelah dua minggu berturut-turut inflow. Ini sejalan dengan keputusan Bank Indonesia yang menurunkan frekuensi lelang SRBI dari mingguan menjadi dua mingguan. Dengan supply yang lebih terbatas, wajar jika posisi asing di instrumen ini mulai stagnan, bahkan sedikit menyusut.

Secara kumulatif YTD per 20 Agustus, total net inflow ke aset rupiah sudah mencapai IDR 146,5 triliun. SRBI masih menjadi instrumen dengan inflow terbesar sepanjang tahun (IDR 187,7 triliun), sementara INDOGBs di posisi kedua dengan IDR 30,4 triliun. Pola ini mencerminkan preferensi asing terhadap instrumen jangka pendek di awal tahun, yang kini mulai bergeser ke obligasi pemerintah seiring stabilnya rupiah.

Momentum pekan ini memberi sinyal bahwa selama rupiah terjaga, INDOGBs punya ruang untuk terus menarik foreign demand — terlepas dari dinamika yield global yang belum sepenuhnya kondusif.