Net inflow asing ke aset rupiah mencapai Rp4,4 triliun minggu ini. Tapi ekuitas terus bleeding — YTD outflow sudah Rp71,8 triliun.
Minggu kedua Agustus, investor asing masih mencatat net inflow ke aset rupiah sebesar Rp4,4 triliun — melambat dari Rp5,7 triliun minggu sebelumnya, tapi tetap positif. Yang menarik bukan angka totalnya, melainkan ke mana uang itu mengalir.
SRBI kembali jadi magnet utama dengan net inflow Rp2,7 triliun. Secara YTD, instrumen Bank Indonesia ini sudah menyerap Rp187,9 triliun dari asing — jauh melampaui instrumen lain. Ini bukan anomali mingguan; ini tren struktural yang konsisten sejak awal tahun. Yield yang kompetitif dengan tenor pendek membuat SRBI tetap menjadi pilihan utama bagi investor yang ingin eksposur ke rupiah tanpa risiko duration panjang.
INDOGBs mencatat pemulihan yang cukup bersih: dari net outflow Rp0,6 triliun minggu lalu, berbalik menjadi inflow Rp2,2 triliun. Konteksnya relevan — global yields yang mulai mereda dan kondisi domestik yang relatif stabil membuka ruang bagi asing untuk kembali ke obligasi pemerintah Indonesia. Secara YTD, posisi kumulatif INDOGBs berada di +Rp16,5 triliun, tipis tapi tetap positif.
Ekuitas adalah cerita yang berbeda. Net outflow mingguan stabil di -Rp0,5 triliun, dan secara kumulatif YTD sudah mencapai -Rp71,8 triliun. Angka ini bukan sekadar besar — ini mencerminkan repositioning sistematis dari asing yang memilih fixed income dan instrumen BI ketimbang JCI. Bahkan di minggu-minggu ketika total aset rupiah mencatat inflow besar, saham tetap bleeding.
Pola ini punya implikasi yang layak diperhatikan. Asing yang masuk ke SRBI dan obligasi tidak serta-merta mendorong valuasi saham. Likuiditas yang masuk ke instrumen BI lebih bersifat sterilized — tidak langsung berputar ke pasar ekuitas. Artinya, rally di JCI yang mungkin terjadi dalam waktu dekat lebih bergantung pada katalis domestik: earnings, kebijakan fiskal, atau pergeseran sentimen retail, bukan pada arus dana asing yang saat ini jelas memilih instrumen lain.
YTD outflow ekuitas sebesar Rp71,8 triliun juga menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar di mana asing secara konsisten net seller di saham, meski overall aset rupiahnya tetap diminati. Divergensi ini layak dicermati bagi siapapun yang membangun tesis bullish jangka menengah untuk IHSG — fondasi dari sisi foreign flow belum mendukung.