LIVE
USD/IDR· UST10Y· KURVA 10Y-2Y· EMAS· EMAS/gr· PERAK· TEMBAGA· EUR/USD· USD/JPY· USD/CNY· BTC· ETH·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

AVIA: Margin Meledak, Guidance Naik

Laba bersih AVIA melesat +32% YoY di Q226 dengan gross margin 45.9%. Guidance revenue FY26 direvisi naik, valuasi masih menarik di P/E 12x.


PT Avia Avian membukukan salah satu kuartal terkuat dalam sejarahnya. Laba bersih Q226 tercatat Rp435 miliar, naik 32% YoY, sementara gross margin melompat ke 45.9% — ekspansi 580 bps dibanding periode yang sama tahun lalu. Ini bukan sekadar angka yang bagus; ini adalah bukti bahwa dua putaran kenaikan harga yang dilakukan AVIA sepanjang April–Mei benar-benar terserap pasar tanpa mengorbankan volume secara signifikan.

Volume segmen architectural solutions tetap tumbuh +4% YoY meski harga naik 7–10% di April dan 5–8% di Mei. Artinya pricing power AVIA cukup solid. Penjualan segmen ini tumbuh +22% YoY — kombinasi volume dan harga yang bekerja bersamaan. Di sisi biaya, SG&A turun 90 bps YoY menjadi 21.1% dari penjualan, sehingga operating profit margin tembus 24.8%, naik 660 bps YoY.

Atas dasar kinerja 1H26 ini, manajemen merevisi guidance revenue FY26 menjadi pertumbuhan 10–14%, naik dari proyeksi awal 6–10%. Guidance volume dipertahankan di 4–8%. Pasar merespons positif — harga saham naik sekitar 3.5% setelah rilis hasil ini.

Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk semester kedua. Manajemen sendiri mengakui H226 akan lebih menantang: stok ritel yang masih tinggi, daya beli yang melemah, dan efek base yang lebih tinggi setelah harga dinaikkan penuh. Fenomena downtrading sudah terlihat jelas di segmen pipa PVC, dan ada risiko tren serupa merambat ke segmen cat — meski ini bersifat siklikal dan bukan struktural.

Di sisi kompetisi, lima pemain besar industri cat sudah ikut menaikkan harga dua putaran mengikuti AVIA, tapi pemain kecil hanya ikut satu putaran, sebagian lagi pasif. Ini menciptakan dinamika menarik: AVIA dan kompetitor besar memiliki cost structure yang memungkinkan mereka mempertahankan margin, sementara pemain kecil mungkin terpaksa menelan tekanan biaya atau kehilangan market share jika mereka tidak menaikkan harga.

Dari sisi aksi korporasi, AVIA mengonfirmasi keikutsertaan dalam proses bidding aset AkzoNobel Indonesia. Pendanaan direncanakan dari kombinasi kas internal dan term debt. Ini menarik — AVIA saat ini dalam posisi net cash Rp1,411 miliar (FY26E), dan neraca mereka cukup bersih untuk mengeksekusi akuisisi tanpa terlalu membebani struktur modal.

Pada harga Rp356, AVIA diperdagangkan di P/E 12.3x untuk FY26E dan EV/EBITDA 8.9x — jauh di bawah level historisnya. Dividend yield FY26E di 6.8% juga tidak kecil untuk saham dengan ROIC yang terus meningkat, dari 22% di FY24 menuju proyeksi 26.7% di FY26E. Dengan price target Rp500, ada upside sekitar 40% dari harga saat ini — asumsi eksekusi H226 tidak mengecewakan dan proses akuisisi AkzoNobel berjalan dengan valuasi yang wajar.